Camat Mauk Lepas Kontingen Jamnas 2026, Soroti Prestasi Pramuka hingga Ancaman Tawuran Remaja

Camat Mauk Angga Yulyantono melepas kontingen Jamnas 2026 sekaligus memberikan peringatan keras terkait maraknya kasus tawuran remaja di Kabupaten Tangerang. Foto: Zakky Adnan/bantenekspres.co.id

 

MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Camat Mauk Angga Yulyantono secara resmi melepas kontingen Pramuka yang akan bertolak mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) 2026.

Bacaan Lainnya

Acara pelepasan yang berlangsung hangat dan penuh rasa bangga ini menjadi momen penting untuk memotivasi para peserta agar memanfaatkan ajang nasional tersebut secara maksimal.

Dalam sambutannya, Angga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para anggota Pramuka terpilih.

Ia mengingatkan ajang yang berlangsung selama 10 hingga 11 hari ini merupakan wadah berharga untuk menimba ilmu, mengasah potensi dan memperluas jaringan antar ranting serta daerah.

“Jangan sia-siakan waktu 10 sampai 11 hari ke depan. Cari potensi, serap ilmu dari teman-teman daerah lain. Bekal pengalaman itu nanti dibawa pulang untuk ditularkan kepada teman-teman di daerah,” ujar Angga, Jumat, 7 Agustus 2026.

Selain memberi dorongan semangat, Camat Mauk menekankan beberapa poin krusial bagi para peserta diantaranya, memastikan kondisi fisik tetap prima selama kegiatan, memohon ridho sebelum berangkat sebagai bekal keselamatan dan menjaga kehormatan diri dan daerah.

Di balik euforia pelepasan kontingen, Camat Mauk juga memberikan pesan menohok terkait isu kenakalan remaja yang kian mengkhawatirkan.

Menindaklanjuti arahan rapat Forkopimda bersama Bupati dan Kapolres Tangerang, ia menyoroti maraknya aksi tawuran yang melibatkan anak usia sekolah hingga remaja putus sekolah.

Angga mengungkapkan fakta miris terkait tragedi tawuran di Desa Sukadiri yang baru saja terjadi seminggu lalu pada pukul 02.30 WIB. Aksi konyol yang dipicu sekadar ajakan di media sosial itu merenggut satu korban jiwa berusia 19 tahun akibat luka bacok.

“Apa sebab-musababnya tawuran? Nggak ada, cuma janjian aja. Padahal cuma beda kampung. Bahkan mereka sekarang sudah bisa bikin bom molotov sendiri,” ungkapnya prihatin.

Dari peristiwa tersebut, pihak kepolisian telah mengamankan hampir 30 anak dan menetapkan tersangka. Mirisnya, media sosial seperti grup Instagram dan WhatsApp menjadi sarana utama penyebaran provokasi tawuran ini.

Menanggapi fenomena disorientasi pergaulan remaja tersebut, Pemerintah Kecamatan Mauk bersama pihak kepolisian (Polres Tangerang), PGRI dan para Kepala Sekolah berkomitmen mengambil langkah tegas.

Dalam 1 hingga 2 minggu ke depan, akan dirumuskan treatment khusus serta kolaborasi lanjutan antara Kecamatan Mauk dan Kecamatan Sukadiri untuk menekan kegiatan negatif remaja.

“Ketika kita sedang susah payah membangun sumber daya manusia yang lebih baik, ada saja disorientasi pergaulan anak-anak kita. Mari kita bergandengan tangan, jaga bersama-sama aset masa depan kita,” tutup Angga sebelum melepas para peserta Jamnas 2026 dengan doa. (*)

 

Pos terkait