MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, terus membuktikan komitmen penuhnya dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting secara berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Camat Mauk Angga Yulyantono, S.IP., M.Si., berbagai strategi konkret mulai dari intervensi gizi, penguatan koordinasi lintas sektor, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat konsisten digulirkan.
Kerja keras dan sinergi kolektif ini membuahkan hasil luar biasa. Berdasarkan data Kecamatan Mauk, angka kasus stunting pada Januari 2026 tercatat sebanyak 1.336 anak.
Melalui penanganan intensif dan terpadu, angka tersebut berhasil ditekan secara signifikan menjadi 992 anak per Juli 2026.
Penurunan drastis ratusan kasus ini membuktikan strategi kolaboratif yang diterapkan di Kecamatan Mauk berjalan tepat sasaran dan efektif.
Penanganan stunting di Kecamatan Mauk tidak berjalan sendiri, keberhasilan ini terwujud berkat kolaborasi erat berbagai pihak, mulai dari Puskesmas Mauk, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa/Kelurahan dan Kecamatan, TP PKK, kader posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), Kader Pembangunan Manusia (KPM), Penyuluh KB, hingga jajaran lintas sektor terkait.
Camat Mauk Angga Yulyantono menegaskan, penanganan stunting membutuhkan kerja sama menyeluruh dari hulu ke hilir.
Untuk memastikan penanganan tepat sasaran di 11 Desa dan 1 Kelurahan, Kecamatan Mauk menjalankan tiga pilar kegiatan utama:
1. Progam ‘Gebrak Tegas’: Dilaksanakan 2 kali dalam setahun (pada Januari dan September 2026). Program Gebrak Tegas bertujuan mendeteksi dini permasalahan stunting di lapangan bersama kader posyandu dan TP PKK sehingga solusi serta tindak lanjut dapat segera dieksekusi.
2. Monitoring dan Evaluasi (Monev) Berkala: Digelar 4 kali dalam setahun untuk memantau perkembangan program secara terukur, mengidentifikasi kendala teknis di lapangan dan memastikan setiap sasaran mendapatkan intervensi gizi maupun medis yang dibutuhkan.
3. Intervensi Pangan dan Natura untuk 180 Balita/Batita: Dilaksanakan 4 kali dalam setahun, program fasilitasi pangan gizi tinggi ini dibagikan langsung kepada 180 balita dan batita stunting. Setiap paket pangan segar yang disalurkan meliputi, 1 kilogram (kg) ayam kampung, 1 kg ikan lele dan 1 kg telur ayam.
Kegiatan pembagian pangan natura ini juga dirangkaikan langsung dengan penimbangan berat badan serta pengukuran tinggi badan oleh Tim Gizi Puskesmas Mauk berdasarkan data rujukan kader posyandu.
Tak hanya memberi bantuan, tim juga mengedukasi orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang, pola asuh, serta sanitasi lingkungan.
Atas konsistensi dan inovasi yang dijalankan, Kecamatan Mauk berhasil menyabet penghargaan dengan masuk dalam 3 Besar Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting dan Gebrak Tegas Tingkat Kabupaten Tangerang.
Prestasi ini menjadi wujud apresiasi nyata atas dedikasi seluruh elemen masyarakat, pimpinan dan tenaga kesehatan di Kecamatan Mauk dalam menyelamatkan generasi masa depan dari ancaman stunting.
Pencegahan stunting juga berkaitan erat dengan kesejahteraan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, Kecamatan Mauk turut meluncurkan program pendukung ekonomi mikro di wilayah pesisir melalui Pengembangan Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Wisata Kuliner Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom.
Bekerja sama dengan Universitas Prasetiya Mulya, para pelaku usaha mendapatkan pendampingan intensif, pelatihan pembuatan produk, hingga strategi pemasaran digital.
Sebagai bentuk dukungan fisik, Kecamatan Mauk bersama Bappeda menyalurkan bantuan sarana usaha kepada 5 pelaku UMKM kuliner berupa gerobak UMKM dan etalase modern, tenda sarnafil, set meja dan kursi makan, perlengkapan serta bahan baku memasak lengkap
Langkah terpadu ini diharapkan mampu mendongkrak perekonomian warga lokal, meningkatkan daya beli masyarakat dan secara tidak langsung memperkuat ketahanan gizi keluarga di wilayah pesisir Mauk. (*)
Reporter: Zakky Adnan











