SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten akan melakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha. Langkah ini dilakukan mengingat tingginya angka kebutuhan hewan kurban di Banten yang sebagian besar masih dipasok dari luar daerah.
Plt Kepala Distan Provinsi Banten, M Nasir, mengatakan bahwa setiap hewan kurban yang masuk ke wilayah Banten wajib disertai dengan sertifikasi veteriner atau surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal.
“Hewan yang masuk harus memiliki sertifikasi veteriner yang dikeluarkan oleh dokter hewan setempat. Ini wajib ada, kalau tidak ada maka tidak diperbolehkan masuk,” katanya saat ditemui di Pendopo Gubernur Banten, Senin 27 April 2026.
Ia mengaku, bahwa Tim Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, telah dijadwalkan untuk melakukan monitoring ke lapak-lapak penjualan hingga 25 Mei mendatang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hewan yang masuk dalam keadaan sehat, tanpa adanya penyakit hewan seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Ya, ada beberapa penyakit (yang diwaspadai-red), termasuk kita juga mengantisipasi PMK kan selama ini yang menjadi persoalan, ya mudah-mudahan tidak ada,” ujarnya.
Menurut Nasir, kebutuhan hewan kurban di Banten mencapai puluhan ribu ekor, terutama untuk jenis domba dan sapi. Namun karena keterbatasan populasi lokal, pasokan didatangkan dari daerah lain, seperti Garut, Jawa Barat, dan daerah lainnya.
Meski demikian, Nasir menekankan pengecualian khusus untuk bantuan kemasyarakatan dari Presiden. Ia menjamin bahwa hewan kurban bantuan Presiden untuk delapan kabupaten/kota di Banten harus berasal dari peternak lokal.
“Kita sudah identifikasi kemarin, sudah memastikan dengan kabupaten/kota untuk melihat di wilayah mana yang memang punya potensi sehingga nanti semua dari hasil peternak lokal Banten Pak,” tegasnya.
Menurut Nasir, ketergantungan pasokan dari luar daerah, selain karena bukan daerah sentra, juga dipicu tingginya permintaan harian yang tidak hanya untuk Idul Adha, tetapi juga kebutuhan pasar reguler dan akikah.
“Kebutuhan pasar kita sangat tinggi karena dekat dengan Jakarta. Di sentra seperti Rancawiru saja, setiap hari bisa keluar 50 sampai 100 ekor domba. Namun, pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi melalui berbagai program, termasuk mendorong pemasaran hasil ternak masyarakat,” paparnya. (*)
Reporter: Syirojul Umam









