Investasi Kota Tangsel Tembus Rp10 Triliun, Target Rp12 Triliun Dibidik

Investasi Kota Tangsel Tembus Rp10 Triliun, Target Rp12 Triliun Dibidik
Gedung Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Tangsel berdiri megah di kawasan Cilenggang, Serpong. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Realisasi investasi di Kota Tangsel hingga triwulan ketiga atau September 2026 telah menembus angka Rp10 triliun. Capaian tersebut mendekati target investasi tahunan Pemkot Tangsel sebesar Rp12 triliun lebih.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tangsel Maulana Prayoga Utama Putra mengatakan, dengan capaian tersebut, pihaknya optimistis target investasi pada 2026 dapat terealisasi hingga akhir tahun.

Bacaan Lainnya

“Target realisasi investasi itu selalu tertuang dalam target tahunan di RPJMD. Untuk 2026 targetnya Rp12 triliun sekian. Sampai triwulan ketiga sudah mencapai Rp10 triliun sekian. Jadi, tinggal berapa persen lagi dan sampai akhir tahun targetnya akan tercapai,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Jumat, 30 Oktober 2026.

Prayoga menambahkan, data realisasi investasi bersumber dari laporan para pelaku usaha besar dan menengah yang beroperasi di Kota Tangsel melalui sistem Online Single Submission (OSS).

Dalam sistem tersebut, pelaku usaha diwajibkan menyampaikan laporan setiap tiga bulan sekali.

Laporan itu mencakup penambahan nilai investasi, tenaga kerja, hingga berbagai persoalan yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan usaha. DPMPTSP Kota Tangsel bertugas melakukan pendampingan kepada pelaku usaha, mulai dari proses pelaporan hingga membantu menyelesaikan berbagai kendala yang berkaitan dengan kegiatan usaha.

“Selanjutnya, data tersebut direkap dan dirilis setiap triwulan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI untuk kemudian didistribusikan ke pemerintah provinsi hingga kabupaten dan kota,” tambahnya.

Prayoga mengungkapkan, struktur perekonomian Kota Tangsel masih didominasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jumlahnya mencapai sekitar 98 hingga 99 persen dari keseluruhan pelaku usaha.

Selain itu, investasi di Kota Tangsel juga lebih banyak berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN), sedangkan penanaman modal asing (PMA) relatif kecil. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat struktur ekonomi Kota Tangsel relatif lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global.

“Ini membuktikan bahwa struktur ekonomi di Kota Tangsel didominasi pelaku usaha dalam negeri. Kalau ada gejolak-gejolak di luar sana, relatif lebih aman,” jelasnya.

Meski demikian, Prayoga mengingatkan bahwa capaian investasi Kota Tangsel tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan daerah yang memiliki kawasan industri berskala nasional dan didominasi investasi asing.

“Dari sisi sektor usaha, investasi terbesar di Kota Tangsel masih berasal dari sektor perumahan, perkantoran, dan konstruksi. Posisi berikutnya ditempati sektor jasa lainnya, termasuk kesehatan dan pendidikan,” ungkapnya.

Maulana menuturkan, tren investasi di Kota Tangsel setiap tahun cenderung mengalami peningkatan, kecuali saat pandemi Covid-19.

Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan perkembangan daerah sekaligus semakin baiknya ekosistem usaha di Kota Tangsel.

Kondisi itu mendorong para pelaku usaha untuk menambah modal dan mengembangkan kegiatan bisnisnya.

“Tren setiap tahun naik itu membuktikan bahwa daerah kita lebih bagus. Yang kedua, ekosistem di kita juga relatif lebih baik sehingga pelaku usaha menambahkan modalnya dan menambahkan kegiatan usahanya,” tutupnya. (*)

Pos terkait