Komika Mega Salsabila ‘Guncang’ Kampus UNIS, Kritik Pedas Pembangunan di Kabupaten Tangerang

komika, Mega, tangerang, kabupaten

TANGERANG, BANTENEKSPRES CO.ID – Gelaran “Badan Komunikasi Rakyat” yang berlangsung di Kampus Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, Rabu, 8 Juli 2026, berlangsung riuh dan penuh tawa.

Acara yang digagas sebagai wadah aspirasi publik ini berhasil memikat ratusan audiens, terutama saat komika asal Kabupaten Tangerang, Mega Salsabila, naik ke atas panggung.

Bacaan Lainnya

Dalam penampilannya, Mega tidak hanya menyuguhkan komedi, tetapi juga melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah daerah khususnya Kabupaten Tangerang. Sorotan utama tertuju pada ketidakhadiran Bupati Kabupaten Tangerang dalam acara tersebut.

“Saya pikir undangan rakyat tidak pernah hadir, undangan kampusnya juga tidak hadir. Tidak support dunia kampus,” celetuk Mega di hadapan audiens yang disambut gelak tawa.

Bahkan, dengan gaya khasnya, Mega berkelakar mengenai ketidakhadiran orang nomor satu di Kabupaten Tangerang itu.

“Saya sudah bilang sama panitia, kalau mengundang saya di poster jangan ada foto saya. Soalnya saya ini kalau di Kabupaten Tangerang adalah pengganggu. Jadi takutnya Bupati keganggu sama foto saya jadi tidak datang,” selorohnya.

Mega mengapresiasi langkah mahasiswa UNIS yang telah menginisiasi forum komunikasi rakyat ini. Menurutnya, acara ini merupakan jembatan yang sangat efektif untuk mempertemukan rakyat dengan pejabatnya tanpa harus melalui aksi demonstrasi di jalanan.

“Kalau mahasiswa bisa bertemu langsung dengan pejabatnya, itu mungkin bisa jadi jalan baru untuk kita berkomunikasi tanpa harus mendobrak pintu kantor,” ujar Mega Mega saat ditemui usai open mic.

DIsinggung mendominasi merosting pemerintah Kabupaten Tangerang, Kabupaten Tangerang, Mega menilai, bahwa banyak program yang sebenarnya sudah baik, namun eksekusinya kerap kali tidak tepat sasaran. Ia menyoroti banyaknya proyek fisik yang dinilai kurang mendesak dibandingkan kebutuhan dasar masyarakat.

“Kadang ada kebijakan yang tidak urgensi tapi malah diutamakan. Seperti gapura, titik nol, hingga hutan bambu. Seharusnya kebutuhan dasar seperti jalan rusak dan penerangan jalan umum (PJU) yang menjadi prioritas,” tegasnya.

Sebagai seorang perempuan dan single parent yang sering beraktivitas hingga larut malam, Mega secara spesifik menyoroti buruknya infrastruktur jalan dan minimnya penerangan di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang. Ia mengaitkan kondisi jalan yang gelap dan rusak dengan tingginya angka kriminalitas.
“Data kejahatan di kepolisian cukup tinggi. Jalan rusak dan gelap itu sangat urgen. Apalagi di Pasar Kemis kemarin sudah ada korban meninggal akibat jalan rusak,” ujarnya.

Ia berharap, ke depan pemerintah daerah lebih berpihak kepada kepentingan rakyat dibandingkan kepentingan pihak lain. Ia menantang pemerintah untuk melihat langsung kondisi nyata di lapangan, misalnya dengan melintasi rute dari Tigaraksa menuju Stasiun Daru atau Cilejit pada malam hari.

Ia juga berharap, agar seluruh kampus di Tangerang Raya, bahkan Banten, dapat meniru inovasi UNIS dalam menciptakan ruang dialog dua arah.

“Mudah-mudahan acara seperti ini terus ada. Harapan saya, pemerintah lebih pro-rakyat. Kritik itu membangun, bukan untuk menghina. Kami ingin Kabupaten Tangerang lebih baik karena ini rumah kami sendiri,” pungkasnya.(*)

Reporter : Abdul Aziz

Pos terkait