TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pembentukan dan pengembangan bank sampah di tingkat kelurahan.
Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi timbulan sampah dari sumber, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilahan sampah, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Wawan Fauzi, mengatakan keberadaan bank sampah menjadi bagian penting dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Hingga tahun 2026, jumlah bank sampah aktif di Kota Tangerang tercatat sebanyak 124 unit yang tersebar di berbagai kecamatan. Angka tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Tangerang dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sekaligus mendorong peningkatan kesadaran warga untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya,” ujar Wawan, Jum’at (22/5/2026)
Sebagai bagian dari perluasan cakupan layanan pengelolaan sampah masyarakat, sejumlah bank sampah baru mulai tumbuh dan aktif di berbagai wilayah Kota Tangerang. Kehadiran bank sampah tersebut diharapkan mampu memperluas edukasi lingkungan sekaligus mempermudah akses masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
Beberapa bank sampah baru yang diketahui antara lain Bank Sampah Cempaka Wangi di Kelurahan Nambo Jaya, Kecamatan Karawaci; Bank Sampah Kampung Hijau di Kelurahan Sukajadi; Bank Sampah Avia Lestari di Kelurahan Jurumudi; Bank Sampah Mantap di Kelurahan Karang Anyar; Bank Sampah Gricil Hijau di Kelurahan Paninggilan; serta Bank Sampah Anggrek Bulan di Kelurahan Larangan Selatan.
Wawan menjelaskan, keberadaan bank sampah tidak hanya menjadi sarana pengumpulan sampah anorganik yang memiliki nilai jual, tetapi juga menjadi pusat edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang benar, termasuk upaya mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah, tetapi menjadi pusat edukasi perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Melalui bank sampah, masyarakat didorong untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah dan memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi,” katanya.
Bank sampah memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penimbangan sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui bank sampah, masyarakat diajak membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, terutama memisahkan sampah organik dan anorganik agar sampah yang masih memiliki nilai ekonomis tidak bercampur dengan sampah residu.
Selain itu, bank sampah juga membantu membangun budaya hidup bersih dengan mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, baik di jalan, drainase, sungai, maupun ruang publik lainnya.
Sampah seperti plastik, kardus, botol, logam, dan kertas yang telah dipilah dapat ditimbang dan ditabung sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dalam operasionalnya, sejumlah bank sampah menerapkan sistem pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, yakni sistem jemput bola, di mana pengelola mendatangi warga atau nasabah untuk mengambil sampah yang telah dipilah, serta sistem setoran langsung, yaitu masyarakat datang ke bank sampah untuk melakukan penimbangan dan pencatatan hasil sampah yang disetorkan.
Untuk memastikan bank sampah berjalan aktif dan berkelanjutan, DLH Kota Tangerang membentuk tim pembina bank sampah yang bertugas melakukan pengawasan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas pengelola.

Tim pembina yang terdiri dari Reza, Ikka, Titing, dan Solehah memiliki tugas melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan bank sampah di wilayah, mengecek keaktifan operasional dan administrasi, melakukan sosialisasi dan pembinaan rutin kepada pengurus serta masyarakat, memberikan pendampingan agar bank sampah tetap aktif dan berkembang, serta mendorong inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain penguatan kelembagaan, DLH Kota Tangerang juga melakukan pembinaan berbasis praktik langsung mengenai pemanfaatan sampah, khususnya sampah organik dan limbah rumah tangga.
Materi pembinaan yang diberikan antara lain pembuatan kompos, eco-enzyme, Mikroorganisme Lokal (MOL), pembuatan sabun dari minyak jelantah, pembuatan lilin dari minyak jelantah, pemanfaatan limbah kulit buah menjadi tepache, hingga pembuatan kokedama sebagai tanaman hias bernilai estetika dan ekonomi.
Wawan juga mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan memilah sampah dari rumah tangga dan memanfaatkan keberadaan bank sampah di lingkungan sekitar.
“Pengelolaan sampah dari sumber menjadi kunci untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA. Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi hal penting dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” pungkasnya. (Adv)








