CINANGKA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Libur panjang akhir pekan membawa berkah bagi pelaku industri perhotelan di kawasan wisata Anyer-Cinangka, Kabupaten Serang. Tingkat hunian hotel atau okupansi bahkan disebut mencapai 100 persen selama periode libur Kenaikan Isa Al Masih dan cuti bersama.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang mencatat lonjakan okupansi terjadi sejak Kamis 14 Mei hingga Minggu 17 Mei 2026. Tingginya okupansi dipicu rangkaian hari libur nasional dan akhir pekan yang dimanfaatkan wisatawan untuk berlibur ke pantai.
Ketua PHRI Kabupaten Serang, Yurlena Rachman mengatakan, mayoritas hotel di kawasan Anyer dan Cinangka penuh terisi wisatawan. Bahkan, beberapa hotel sudah penuh sejak jauh hari sebelum libur panjang dimulai.
“Rata-rata okupansi hotel di Anyer dan Cinangka mayoritas sudah mencapai 100 persen, meskipun ada beberapa hotel yang di angka 90 persen,” kata Yurlena saat ditemui di Hotel Moven Pick, Kecamatan Cinangka, Minggu 17 Mei 2026.
Menurutnya, banyaknya tanggal merah sepanjang Mei turut mempengaruhi tingginya minat masyarakat untuk berlibur lebih lama. Apalagi pemerintah juga menetapkan cuti bersama yang membuat wisatawan bisa menikmati liburan hingga beberapa hari.
“Banyak tamu yang menginap lebih dari satu malam, ada yang dua malam bahkan tiga malam,” ujarnya.
Yurlena mengungkapkan, wisatawan yang datang didominasi pengunjung dari wilayah Jabodetabek seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Jumlahnya mencapai sekitar 70 persen, sedangkan sisanya berasal dari wilayah lokal seperti Serang dan sekitarnya.
Ia menilai berbagai promo yang ditawarkan hotel juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk memilih menginap di kawasan pantai Anyer-Cinangka.
“Biasanya wisatawan booking kamar dari jauh hari. Banyak promo spesial dari hotel yang membuat wisatawan tertarik,” katanya.
Meski okupansi tinggi, PHRI tetap meminta pengelola hotel terus melakukan evaluasi, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada tamu.
Menurut Yurlena, pelayanan yang baik menjadi faktor utama agar wisatawan merasa nyaman dan kembali berkunjung, dibanding sekadar bersaing pada fasilitas maupun kemewahan kamar hotel.
“Kalau bersaing soal kamar atau fasilitas, pasti banyak hotel lain yang bagus. Tapi kalau pelayanan itu dari hati. Kalau servisnya bagus, tamu pasti ingin datang lagi,” pungkasnya. (*)










