Mimpi KWT Mawar 8 di Batuceper, Menembus Rantai Industri Pangan

Mimpi KWT Mawar 8 di Batuceper, Menembus Rantai Industri Pangan
KWT Mawar 8, Batuceper tengah memanen sayur mayur. Foto Abdul Aziz/Bantenekspres.co.id

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kota Tangerang telah memberikan banyak manfaat, baik bagi perorangan, lingkungan, maupun daerah. Mulai dari peningkatan kesejahteraan ekonomi warga, penataan lingkungan yang menjadi hijau dan bersih, hingga menjadi daerah percontohan di tingkat nasional.

Salah satu potret keberhasilan ini ada di tengah permukiman padat RW 04 Kelurahan Poris Gaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. Lahan fasilitas umum (fasum) seluas 350 meter persegi yang sebelumnya terbengkalai, kini telah berubah menjadi kebun hidroponik produktif milik KWT Mawar 8.

Bacaan Lainnya

Kawasan yang dulu dipenuhi semak belukar dan kerap tergenang banjir itu kini menjadi simbol tumbuhnya semangat baru warga dalam bertani di tengah kota (urban farming).

Tak banyak yang menyangka, kebun kecil ini lahir dari masa sulit yang pernah membuat orang-orang takut keluar rumah. Pada 2021, ketika pandemi Covid-19 mengurung aktivitas masyarakat, lahan fasum ini hanyalah tanah kosong yang telantar dan kumuh.

Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini menceritakan, kelompoknya sempat kesulitan mengembangkan pertanian urban. Kondisi lahan yang becek membuat tanaman sulit dirawat, sehingga aktivitas bertani sering kali terhenti.

Titik balik baru muncul ketika KWT Mawar 8 mengajukan proposal pengembangan urban farming hidroponik ke program binaan BRI. Dalam waktu sekitar satu bulan, kelompok tersebut dinilai layak menerima dukungan melalui program CSR BRI Peduli bertajuk BRInita (BRI Bertani di Kota) pada periode September-Oktober 2025 lalu.

“Kami mendapatkan bantuan, sehingga lahan hidroponik dijadikan lebih bagus lagi. Kita punya semangat baru dan merasa tidak sendiri untuk maju,” ujar Yuliana saat ditemui belum lama ini.

Melalui program tersebut, BRI menyalurkan bantuan senilai Rp150 juta. Bantuan ini tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan fasilitas fisik berupa pembangunan balai KWT sebagai pusat aktivitas komunitas dan tempat berteduh, pengerjaan pengurukan area rawan banjir menggunakan tanah merah, penambahan instalasi hidroponik serta penyediaan fasilitas penunjang agar kegiatan bertani lebih nyaman dan tertata.

Perlahan, kebun itu tumbuh menjadi lebih hidup. Tak hanya sayuran segar, KWT Mawar 8 mulai mengkreasikan berbagai produk olahan kreatif, seperti sirup belimbing wuluh, minuman lidah buaya, hingga jus sayur kombinasi lemon dan nanas. Hasil panen ini pun rutin dibeli oleh warga RW 04 Kelurahan Poris Gaga Baru.

Yuliana menjelaskan, sejak awal, kelompok mereka memang tidak dibangun sebagai sumber penghasilan utama, melainkan sebagai aktivitas sosial produktif untuk menghidupkan lingkungan.

Orientasi mereka tidak melulu soal bisnis. Dalam skala ekonomi pun, perputarannya masih terbilang ultra mikro dengan pendapatan maksimal sekitar Rp1 jutaan per panen. Nilai tersebut belum cukup untuk dijadikan sumber nafkah utama.

Oleh karena itu, saat panen melimpah, sebagian hasil sayur justru dibagikan kepada warga sekitar atau pengunjung posyandu. Mereka bahkan pernah membagikan kangkung gratis yang terdampak banjir namun masih layak konsumsi. Untuk menarik partisipasi warga, pengunjung posyandu yang datang lebih awal terkadang dihadiahi satu ikat sayur gratis.

“KWT Mawar 8 saat ini telah menjadi kegiatan pelengkap di lingkungan RW kami. Jadi utamanya warga pasti bekerja dulu, atau ibu-ibu mengurus rumah tangga dulu, baru ke KWT. Karena tujuan awalnya memang agar lahan yang semula terbengkalai menjadi bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” jelas Yuliana.

Kini, bantuan tersebut tidak hanya memudahkan warga mendapatkan sayuran segar, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga bagi para perempuan penggerak urban farming.

Yuliana memimpikan suatu hari nanti, KWT Mawar 8 bisa memiliki produk unggulan yang dikenal luas, bahkan mampu menembus rantai industri pangan yang lebih besar. Ia ingin orang-orang yang datang berkunjung tidak hanya melihat tanaman, tetapi juga menyaksikan bahwa ibu-ibu di lingkungan kecil mampu menciptakan sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi.

Ada harapan besar bahwa kebun kecil di tengah permukiman padat ini ke depannya bukan sekadar menjadi ruang terbuka hijau, melainkan pusat produksi komunitas yang mampu memberikan penghasilan yang lebih layak bagi seluruh anggotanya.(*)

Pos terkait