SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah pesatnya pembangunan kawasan perkotaan di Kota Tangsel, Kampung Konservasi Rimbun hadir sebagai ruang hijau sekaligus sarana edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Berlokasi di Jalan H. Jamat, Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, kawasan tersebut mengajak pengunjung lebih dekat dengan alam melalui berbagai kegiatan berbasis konservasi dan pertanian berkelanjutan.
Pengelola Kampung Konservasi Rimbun, Gusri Efendi mengatakan, kawasan tersebut dibangun sebagai tempat edukasi lingkungan, khususnya bagi anak-anak agar sejak dini memahami pentingnya menjaga alam dan keseimbangan ekosistem.
“Kampung Konservasi Rimbun ini tempat edukasi, tempat bagaimana pemulihan lahan dan bagaimana anak-anak sejak dini mengenal lingkungan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID beberapa waktu lalu.
Gusri menambahkan, persoalan lingkungan seperti sampah, banjir hingga menurunnya kualitas lingkungan hidup menjadi tantangan besar yang berdampak langsung terhadap kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
“Kualitas kehidupan masyarakat itu ditentukan oleh kualitas lingkungannya. Kalau sampah ditumpuk sembarangan bisa menimbulkan penyakit dan berdampak pada kualitas hidup masyarakat,” tambahnya.
Kampung Konservasi Rimbun berdiri sejak tahun 2018 dengan luas kawasan sekitar 2,4 hektare. Di lokasi tersebut tersedia berbagai fasilitas edukasi dan aktivitas alam terbuka seperti camping, belajar menanam, mengenal flora dan fauna hingga kegiatan seni budaya.
“Di sini ada camping, belajar menanam, mengenal flora dan fauna, sampai kegiatan tarian nusantara setiap hari Sabtu,” jelasnya.
Selain menjadi lokasi wisata edukasi bagi pelajar, kawasan tersebut juga sering dimanfaatkan untuk kegiatan outbound dan gathering perusahaan. “Biasanya ramai kunjungan anak sekolah untuk edukasi lingkungan. Tapi perusahaan juga sering mengadakan kegiatan di sini,” terangnya.
Tidak hanya fokus pada edukasi lingkungan, Kampung Konservasi Rimbun juga menerapkan konsep pertanian organik berbasis ekosistem atau permakultur. Seluruh aktivitas pertanian dilakukan tanpa menggunakan pupuk sintetis maupun bahan kimia buatan pabrik.
“Di Rimbun kami tidak menggunakan pupuk sintetik. Semua pupuk dikelola sendiri dari bahan organik,” tuturnya.
Pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran ternak, dedaunan serta limbah alami lain yang diolah kembali menjadi nutrisi tanaman. “Pupuknya berasal dari kotoran ternak, daun-daun dan bahan organik lainnya,” katanya.
Menurutnya, sistem permakultur yang diterapkan bertujuan menciptakan pertanian mandiri yang tetap menjaga keseimbangan ekosistem dan tidak merusak lingkungan. “Pertanian itu harus berorientasi pada ekosistem,” jelasnya.
Ia menilai penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat membuat tanah kehilangan kesuburannya dan bergantung pada bahan kimia tambahan. “Kalau terus memakai pupuk sintetis, tanah itu lama-lama mati dan tergantung pada pupuk tersebut,” ungkapnya.
Karena itu, Kampung Konservasi Rimbun memilih mengembangkan sistem pertanian alami dengan memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
Konsep tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan pelajar agar lebih memahami pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan melalui pola pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. (*)










