Perjalanan Wahyudi Leksono, Dari Buruh Sablon Kini Memimpin BKPSDM Tangsel

Perjalanan Wahyudi Leksono
Kepala BKPSDM Kota Tangsel, Wahyudi Leksono, di ruang kerjanya, Kamis, 12 Mei 2026.

CIPUTAT, BANTENEKSPRES.CO.ID – Hidup tak selalu diawali dari kemenangan. Kadang, jalan menuju puncak justru dibangun dari kegagalan, penolakan, bahkan masa-masa ketika seseorang merasa tak punya arah.

Itulah perjalanan hidup Wahyudi Leksono, pria yang kini duduk sebagai Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Tangerang Selatan. Di balik jabatan strategisnya hari ini, tersimpan cerita hidup yang keras, panjang, dan penuh tikungan tajam.

Bacaan Lainnya

Wahyudi lahir di Jakarta, 3 Juli 1974. Ia tumbuh sebagai anak keempat dari lima bersaudara dalam keluarga sederhana. Tahun 1992, setelah lulus dari SMA 33 Jakarta, ia ‘berdiri’ di persimpangan hidup seperti jutaan anak muda lain: antara mimpi besar dan kenyataan yang tak selalu ramah.

Saat teman-temannya mulai diterima di kampus atau sekolah kedinasan, Wahyudi justru berkali-kali menghadapi kegagalan.

Ia mencoba jalur PMDK ke sejumlah perguruan tinggi ternama. Universitas Sebelas Maret hingga Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah menjadi harapan. Dunia pertanian dan perkebunan begitu menarik hatinya kala itu.

“Sebenarnya saya senang dunia pertanian dan perkebunan, makanya ikut PMDK ke IPB,” kenangnya.

Namun mimpi itu kandas di meja seleksi. Nilai rapornya ternyata belum cukup kuat untuk bersaing dengan ratusan pelajar terbaik lainnya. Padahal, ia merasa sudah berjuang maksimal.

“Karena mungkin nilai rapor kurang besar. Saya cuma modal tiga besar di kelas. Tapi, begitu di PMDK nilainya diadu sama ratusan pendaftar lain,” ujarnya.

Hari-hari setelah kelulusan SMA pun berubah menjadi masa paling sunyi dalam hidup Wahyudi. Setahun menganggur, membuat dunia terasa begitu sempit.

Wahyudi menganggur bukan karena malas. Tapi, karena semua pintu terasa tertutup. Ia pun mencoba bertahan. Mengikuti kursus, bimbingan belajar, dan terus mencari peluang baru.

Sambil menunggu kesempatan datang, Wahyudi sempat bekerja di usaha sablon plastik kresek milik temannya. Di tempat itu, tangan muda Wahyudi ikut terlibat dalam pekerjaan ‘kasar’. Mencetak merek atau logo toko dan brand pakaian di atas lembaran plastik.

Pekerjaan kasar itu baru berjalan sekitar sebulan ketika tubuhnya menyerah. Lantaran ia terserang tifus sehingga memaksanya berhenti menekuni pekerjaan menyablon plastik.

Namun, Wahyudi tak memberi ruang untuk mengisi waktu dengan mengeluh. Setelah pulih, ia kembali mencari pekerjaan. Kali ini ia ikut seorang teman menjadi kurir dokumen pajak perusahaan. Pekerjaannya sederhana: mengantar berkas ke kantor pajak, menunggu proses administrasi, lalu kembali lagi.

Tanpa seragam. Tak ada jabatan. Tak ada kepastian masa depan. Hanya seorang anak muda yang terus berjalan sambil berharap hidupnya berubah.

Daftar Sekolah Pilot Militer

Di saat banyak orang mungkin memilih menyerah, Wahyudi justru semakin keras mengetuk pintu kesempatan. Ia mendaftar ke berbagai sekolah kedinasan dan institusi bergengsi: STAN, Telkom, hingga PSDP yaitu sekolah pilot militer di Halim.

Bahkan, ia sempat menembus 40 besar seleksi sekolah pilot yang hanya menerima lima orang terbaik.

lagi-lagi gagal. Asa menjadi pilot militer, tak dapat diraih. Namun satu hal membedakan Wahyudi dari banyak orang: ia tidak berhenti mencoba. Sampai akhirnya, kesempatan itu datang. Ia dinyatakan lolos seleksi calon praja STPDN. Sebuah momentum yang menjadi titik balik hidupnya. “Di situlah titik baliknya,” kata Wahyudi.

Pintu yang selama ini terasa tertutup mendadak terbuka lebar. Dari seorang pemuda pengangguran yang sempat bekerja serabutan, ia mulai menapaki jalan pengabdian sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Bahkan, bukan hanya karier yang ia temukan di sana. Di masa pendidikan itulah Wahyudi juga bertemu tambatan hatinya. Di tengah kerasnya kehidupan sekolah kedinasan, ia menemukan seseorang perempuan yang kini menjadi ibu dari 4 anaknya.

Takdir yang dulu terasa menjauh, perlahan berubah menjadi jalan panjang penuh harapan. Karier Wahyudi terus bergerak naik. Ia pernah menjabat sebagai Camat Setu, memimpin wilayah dengan berbagai dinamika masyarakat.

Setelah itu, ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tangsel, lalu menjadi Sekretaris DPRD Kota Tangsel.

Kini, ia mengemban tanggung jawab besar sebagai Kepala BKPSDM Kota Tangsel, lembaga yang mengurus sumber daya manusia aparatur pemerintahan.

Di balik jabatan dan kesibukannya, Wahyudi tetap seorang ayah bagi empat anaknya. Ini pula yang menjadi alasan terbesarnya untuk terus bekerja dan mengabdi.

Kisah Wahyudi Leksono adalah potret tentang keteguhan. Tentang seorang anak muda yang pernah gagal berkali-kali, pernah sakit, pernah bekerja seadanya, namun tidak membiarkan hidup berhenti di titik kegagalan.

Sebab kadang, jalan menuju puncak memang tidak dimulai dari kemenangan. Melainkan dari keberanian untuk terus bangkit, bahkan ketika alam berkali-kali menjatuhkan. (*)

Pos terkait