TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Viossy Arrubab Abimanyu, siswi SDN Tanah Tinggi 7, berhasil menyabet gelar Juara 1 setelah melalui persaingan sengit yang melibatkan peserta terbaik dari berbagai kecamatan. Prestasi ini diraih dalam ajang lomba English Story Telling (bercerita) tingkat kota, yang digelar dalam rangka HUT Kota Tangerang ke-33 tahun pada 12 Februari 2026 silam.
Gadis kelahiran 25 September 2013, asal Banjar Wijaya ini menunjukkan progres yang luar biasa. Menariknya, keberhasilan Viossy di tingkat kota merupakan sebuah kejutan manis.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Romelih, Guru SDN Tanah Tinggi 7 Kota Tangerang. Ia mengatakan, sebelumnya, pada seleksi tingkat kecamatan Viossy menempati posisi kedua. Namun, saat melaju ke tingkat kota pada 12 Februari 2026, posisi tersebut justru berbalik.
“Di kecamatan juara dua, tapi pas di kota juara satu. Kita tukeran dengan juara satu kecamatan yang pas di kota jadi juara dua,” ujar Romelih kepada bantenekspres.co.id, Selasa 21 April 2026.
Romelih menjelaskan, kemenangan Viossy ini tidak didapatkan secara instan. Sejak kelas 4 SD, ia telah aktif mengikuti berbagai ajang lomba bercerita. Selain itu, keunggulannya terletak pada teknik penyampaian cerita yang tidak sekadar memaparkan fakta wilayah, melainkan menghidupkan sejarah melalui dialog dan penjiwaan karakter.
Ia menambahkan, dalam kompetisi kali ini, Viossy membawakan tema lokal yang kuat, yaitu sosok “Mpo Ris”, seorang pendekar wanita legendaris asal Poris. Cerita ini menonjol karena menyajikan kisah perjuangan melawan penjajah Belanda. Lebih dari itu, Viossy juga membawakan lengkap dengan aksi dan emosi sehingga dapat memukau para juri.
“Rata-rata peserta hanya menyebutkan ikon kota seperti masjid atau makanan. Tapi Story Telling yang sebenarnya adalah seperti yang disajikan Viossy ada sejarahnya, ada ceritanya, bahkan ada adegan berantem dengan Belanda juga,” tambahnya.
Dikatakan Romelih, persiapan matang menjadi kunci utama kesuksesan ini. Ia menyebut, selain mendapatkan pembinaan intensif dari guru-guru di sekolah, peran orang tua juga sangat krusial. Diketahui, sang ibu turut membantu Viossy dalam mengasah pelafalan bahasa Inggris serta mempersiapkan kostum pendekar yang menunjang penampilannya di panggung.
Setelah melewati babak penyisihan yang membagi peserta ke dalam dua tim, Viossy berhasil masuk ke babak 12 besar hingga akhirnya dinobatkan sebagai yang terbaik di malam Grand Final. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi lain di Kota Tangerang untuk terus melestarikan sejarah lokal melalui karya kreatif. (*)
Reporter: Muhammad Dhuyuf Khuzaimi











