Lima Kecamatan di Kota Tangerang Masuk Zona Rawan Kekeringan

Kepala Pelaksanana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar saat diwawancarai, Kamis (30/7). Dhuyuf/bantenekspres.co.id.

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Berdasarkan hasil pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mewaspadai potensi kekeringan di lima kecamatan. Dari lima wilayah tersebut, Kecamatan Batuceper berstatus awas, sedangkan Kecamatan Benda, Cipondoh, Pinang, dan Tangerang berada pada status waspada.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang mengatakan, kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah menyiapkan Surat Keputusan (SK) Siaga Hidrometeorologi Kekeringan sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

“Dari hasil kajian dan juga masukan dari BMKG, OPD, serta instansi terkait, memang kita merasa perlu membuat SK Hidrometeorologi Kekeringan. Ini menjadi warning bagi seluruh OPD, stakeholder, maupun masyarakat agar waspada terhadap kondisi kemarau yang diprediksi masih berlangsung sampai Oktober,” ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan hingga saat ini kondisi pasokan air bersih di Kota Tangerang masih relatif aman dan belum ada laporan masyarakat terkait krisis air. Namun, BPBD tetap menyiapkan berbagai langkah antisipasi apabila kondisi memburuk.

Menurutnya, wilayah yang telah terlayani jaringan Perumda Tirta Benteng diperkirakan masih aman selama pasokan air baku dari Sungai Cisadane tetap tersedia. Sementara kawasan yang belum terjangkau jaringan perpipaan menjadi perhatian khusus.

“Yang kita khawatirkan adalah wilayah-wilayah yang belum ter-cover PDAM. Ada kendala dalam upaya memperluas jaringan ke wilayah timur. Mudah-mudahan persoalan perizinan dapat segera diselesaikan sehingga jaringan bisa diperluas,” katanya.

BPBD juga telah berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk menginventarisasi sumber-sumber air, memastikan kesiapan pompa, menyiapkan armada mobil tangki, serta mengantisipasi distribusi air bersih apabila dibutuhkan.

Selain itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kemarau.

“Kita harus bijak dalam pemakaian air dan menghindari pembakaran sampah ataupun sumber-sumber api di lingkungan masing-masing. Kalau terjadi kondisi darurat atau masyarakat mulai mengalami kesulitan air bersih, segera laporkan melalui RT, RW, lurah, layanan 112, atau langsung ke BPBD. Kami siap memberikan penanganan,” pungkasnya. (*)

 

 

Pos terkait