TANGERANG, TANGERANGEKSPRES.CO.ID – Habisnya masa bakti Pengurus Provinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (Pengprov PASI) Banten masa bakti 2022-2026 menggerakkan hati Ketua Pengcab PASI Kabupaten Tangerang Desy Ruli untuk maju mencalonkan diri sebagai Ketua Pengprov PASI Banten masa bakti 2026-2030. Desy berniat maju untuk membenahi prestasi olahraga atletik Banten yang dinilai empat tahun belakangan mati suri.
Niatan ini disampaikan Desy kepada media, Minggu (20/9/2026) usai melakukan persiapan cabor atletik Kabupaten Tangerang menghadapi Porprov VII Banten. Disampaikan wanita yang juga merupakan mantan atlet atletik nasional dirinya prihatin atas apa yang terjadi dalam program pembinaan atletik Banten yang tidak menunjukkan grafik peningkatan prestasi atlet.
“Saya lihat prestasi atlet atletik Banten mengalami penurunan sejak PON XX di Papua, Ini tidak lepas tidak adanya program pembinaan yang jelas dari Pengprov Banten,” ujar Desi.
Sekedar informasi prestasi PASI Banten dibawah kepemimpinan Adde Rossi mengalami penurunan dari raihan 2 medali perak di PON XX tahun 2021 di Papua menjadi 1 perak dan 1 perunggu di PON XXI tahun 2024 di Aceh-Sumatera Utara.
Penilaian Desy ini tidak lepas dari minimnya kegiatan lomba yang digelar oleh Pengrov PASI Banten dalam kurun waktu 4 tahun belakangan. Dimana saat ini Kejurprov semakin jarang digelar. Pada masa bakti kepengurusan sebelumnya pimpinan Cepi Safrul Alam Kejurprov rutin digelar 2 kali dalam setahun.
“Setelah pak Cepi, Kejurprov hanya digelar 1 kali dalam setahun. Bahkan tahun ini bahkan kabarnya Kejurprov tidak digelar,” ujar wanita yang telah menggelar Kejuaraan Atletik tingkat nasional Sirkuit Atletik di Indomilk Arena 3-4 kali dalam satu tahun.
Padahal ujar Desy kompetisi sangat penting buat atlet Banten sebagai wadah mengasah pengalaman dan evaluasi hasil latihan.
Selain itu Desy mengungkap standar pembinaan di Banten juga mengalami penurunan terutama terkait pelaksanaan Porprov. Pelaksanaan Porprov dinilai Desy kerap tidak mempertimbangkan standar untuk prestasi tingkat nasional. Pada Porprov VI misalnya, atlet senior minim nomor pertandingan padahal kata Desy, Porprov salah satu barometer keberhasilan pembinaan di Banten.
“Padahal selama ini yang menyumbangkan medali di kancah multieven nasional selevel PON adalah atlet-atlet senior, tapi justru keberadaan atlet senior di Banten malah tidak lagi dianggap ada karena even atletik khususnya di kategori senior tidak pernah lagi diperlombakan, dengan adanya batasan usia pada even Porprov,” ungkap Desy.
“Pada Porprov di Kota Tangerang dan November nanti di Tangsel aturan menetapkan atlet yang bertanding adalah dibawah umur atlet senior yang akan berlaga di PON,” imbuhnya. “Jadi dipastikan atlet yang berprestasi di Porprov tidak akan bisa bersaing dengan atlet yang tampil di PON yang merupakan atlet senior, sulit buat Banten bersaing di level PON,” ujar Desy.

Aturan batasan usia di Porprov kata Desy sudah berdampak pada prestasi atlet senior Banten saat Kejurnas, atlet senior Banten kesulitan bersaing di Nasional dalam 4 tahun belakangan.
Kritik Desy pun menyasar nomor lomba yang dipertandingkan pada Porprov VII Banten di Kota Tangsel. Pengprov PASI Banten menghalalkan keinginan tuan rumah menjadi juara umum dengan mengadakan nomor-nomor perlombaan yang justru di nasional tidak pernah diperlombakan,seperti nomor estafet jalan cepat.
“Nomor ini jadi bahan tertawaan teman-teman di pusat dan provinsi lain, karena memperlombakan nomor yang di nasional tidak pernah dipertandingkan. Dan itu dibiarkan oleh Pengprov,” tegasnya. (*)











