TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PAN, Tubagus Luay Sofhani, mengungkap tiga persoalan utama yang menjadi ancaman serius terhadap kualitas lingkungan hidup di Provinsi Banten, yakni pencemaran udara, menurunnya kualitas air, serta tingginya volume sampah yang belum dikelola secara optimal.
Hal itu disampaikan Luay saat menjadi narasumber dalam Podcast Ngorek (Ngobrol Redaksi) Tangerang Ekspres yang dipandu Endang Sarohni di Wake Life Cafe, Karawaci, Kota Tangerang.
Menurutnya, kondisi lingkungan di Banten saat ini menunjukkan tantangan yang berbeda antara wilayah selatan dan utara. Kawasan selatan yang masih didominasi pegunungan memiliki kualitas udara yang relatif baik karena aktivitas industri dan kepadatan kendaraan belum terlalu tinggi. Sebaliknya, wilayah utara, mulai dari Cilegon, Kabupaten Serang bagian timur hingga Tangerang, mulai mengalami penurunan kualitas udara akibat emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri.
“Di beberapa lokasi bahkan kualitas udara sudah melewati ambang batas sehingga perlu mendapatkan perhatian serius,” ujarnya.
Selain kualitas udara, Luay menyoroti kondisi sumber daya air yang terus mengalami penurunan. Ia menjelaskan, kualitas air di kawasan hulu masih tergolong baik, namun mengalami pencemaran ketika mengalir ke wilayah tengah hingga hilir.
Ia mencontohkan Sungai Cisadane yang kualitas airnya berubah signifikan saat memasuki kawasan Tangerang dibandingkan dengan kondisi di bagian hulu.
Persoalan berikutnya adalah pengelolaan sampah. Dengan jumlah penduduk Banten mencapai sekitar 12 hingga 13 juta jiwa, Luay memperkirakan produksi sampah harian mencapai sekitar 6.000 ton. Menurutnya, apabila tidak dikelola dengan baik, persoalan tersebut akan terus menurunkan kualitas lingkungan hidup.
Luay menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah maupun Dinas Lingkungan Hidup. Ia menilai seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku usaha dan industri, harus terlibat aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Keberhasilan menjaga lingkungan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Semua pihak harus memiliki rasa tanggung jawab yang sama,” katanya.
Ia menilai regulasi terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebenarnya sudah tersedia. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah implementasi kebijakan di lapangan.
Karena itu, pemerintah daerah didorong memperkuat pelaksanaan program lingkungan dengan melibatkan masyarakat melalui berbagai kegiatan, seperti pengembangan bank sampah, pengelolaan sampah rumah tangga, hingga edukasi tentang pelestarian lingkungan.
Menurut Luay, pengelolaan sampah idealnya dimulai dari tingkat rumah tangga dengan membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah tersebut kemudian dapat diolah menjadi kompos, didaur ulang, maupun dimanfaatkan melalui teknologi seperti budidaya maggot.
“Tantangan kita bukan lagi soal teori, tetapi bagaimana menjadikan pengelolaan sampah sebagai budaya masyarakat,” ungkapnya.
Terkait persoalan banjir, Luay mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menyalahkan pemerintah ketika bencana terjadi. Ia menilai sungai harus dijaga dan dirawat sepanjang tahun karena selain mampu mengurangi risiko banjir, juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi masyarakat.
Ia juga mengusulkan penerapan sistem penghargaan dan sanksi dalam upaya menjaga lingkungan. Masyarakat yang aktif menjaga kebersihan perlu diberikan apresiasi, sedangkan pelanggaran seperti membuang sampah sembarangan harus dikenai sanksi sebagai bentuk edukasi.
Lebih lanjut, Luay menyebut pencemaran udara di Banten didominasi oleh emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri. Oleh karena itu, pengawasan terhadap kedua sektor tersebut harus diperketat, disertai pengembangan transportasi massal yang nyaman agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) sebagai tindak lanjut dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Menurutnya, perencanaan tata ruang yang detail akan membantu meminimalkan persoalan lingkungan, termasuk banjir.
Di sisi lain, Luay menilai Banten memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari laut, pegunungan, hutan hingga sektor pertanian. Potensi tersebut diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan. “Kalau tiga persoalan ini dapat kita tangani bersama, saya yakin kualitas lingkungan hidup di Banten akan semakin baik,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aldi Alpian Indra










