TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Kelapa Dua, Desa Pete, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Daman (45) menjalani kehidupan yang jauh dari kata cukup. Bersama istri dan empat anaknya, ia tinggal di rumah yang bahkan tidak memiliki kamar.
Sehari-hari, Daman bekerja sebagai buruh serabutan. Penghasilannya pun tidak menentu. Jika ada pekerjaan, ia hanya membawa pulang sekitar Rp50 ribu per hari. Namun, tak jarang ia harus pulang dengan tangan kosong.
“Penghasilan paling Rp50 ribu per hari, kadang-kadang juga tidak ada penghasilan,” kata Daman saat ditemui, Senin 30 Maret 2026.
Dengan kondisi tersebut, Daman mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski demikian, ia berusaha tetap bersyukur dan mencukupkan apa yang ada.
“Ya tidak cukup, tapi dicukupi-cukupi saja,” ujarnya pelan.
Kehidupan sederhana itu sudah dijalani Daman selama empat tahun sejak rumahnya dibangun secara awal. Rumah yang ditempati enam orang itu berdinding seadanya dan tanpa kamar tidur, membuat seluruh anggota keluarga harus berbagi ruang yang terbatas.
Namun di tengah keterbatasan tersebut, Daman kini mulai melihat secercah harapan. Ia mengaku baru saja mendapatkan bantuan setelah adanya kunjungan dari Menteri Perumahan dan Pemukiman yang melihat langsung kondisi rumahnya.
“Alhamdulillah saya sudah dibantu, saya terima kasih. Katanya tidak lama setelah kunjungan ini akan langsung dibangun,” ungkapnya penuh harap.
Bagi Daman, bantuan tersebut bukan sekadar perbaikan rumah. Lebih dari itu, ia berharap keluarganya bisa hidup lebih layak dan anak-anaknya memiliki ruang yang lebih nyaman untuk tumbuh.
Di balik pesatnya pembangunan Kabupaten Tangerang, kisah Daman menjadi potret bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan. Harapan sederhana pun menjadi kemewahan tersendiri bagi Daman. “Harapan saya memiliki rumah yang layak dan penghasilan yang cukup untuk bertahan hidup,” (*)
Reporter: Dani Mukarom








