TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Sepekan pasca Bencana Tanah Longsor dan Banjir Bandang Sumatera, tepatnya pada akhir November 2025, Wally Mujahidin (25) mendapat tugas misi kemanusiaan.
Dia seorang diri dikirim Baznas Kota Tangerang ke lokasi bencana Sumatera, sebagai tim advance guna mengetahui lokasi terdampak bencana.
Sebelum diberangkatkan ke lokasi bencana, Wally memohon restu kepada kedua orang tuanya dan istrinya yang tengah mengandung anak pertamanya dengan usia kehamilan 7 bulan.
“Saya bimbang, satu sisi saya merasa terpanggil untuk berangkat menjalani misi kemanusiaan, tapi berat juga rasanya meninggalkan istri yang usia kehamilannya sudah menanjak diusia 7 bulan,” ungkap Wally menceritakan kisahnya, Minggu 4 Januari 2025.
“Setelah mendapat restu dari orang tua dan istri, terlebih tekad saya juga kuat saya langsung bilang ke pimpinan Baznas Kota Tangerang, saya sudah mendapat izin dari keluarga dan siap diberangkatkan. Pimpinan pun melalui bendahara langsung memesankan tiket pesawat untuk saya untuk diberangkatkan ke Sumatera Utara,” sambungnya.
Wally diberangkatkan Baznas Kota wilayah terdampak bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Sesampainya disana dia bergabung dengan tim advance Baznas pusat untuk memetakan kebutuhan warga yang terdampak bencana tanah longsor dan banjir bandang.
“Saya bersama tim advance Baznas pusat bertugas untuk mengetahui dan mendalami kira-kira apa saja kebutuhan warga terdampak bencana. Kemudian menentukan titik lokasi wilayah mana yang akan kita berikan bantuan,” katanya.
Di lokasi bencana, Wally tak dapat menghubungi keluarganya lantaran tidak adanya signal selular. Namun, dia berdoa agar dalam menjalani misi kemanusiaan selalu dalam lindungan Allah SWT. Terlebih keluarganya di rumah pun selalu dalam lindungan-Nya.
Selama dua pekan lebih di wilayah terdampak bencana, Wally mendapatkan pengalaman berharga. Lokasi bencana yang penuh dengan lumpur dan akses jalan banyak yang terputus akibat tanah longsor dan banjir bandang. Kondisi tersebut membuat tim advance Baznas harus berjibaku menembus jalur guna mencapai ke titik lokasi yang sudah diarahkan dari tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
“Ada jalur yang masih bisa dilalui mobil, itu pun harus berjibaku menembus lumpur bekas banjir yang cukup dalam. Karena pada sepekan pasca Bencana banyak warga terisolir lantaran kesulitan akses. Maka itu bantuan prioritas logistik permakanan dan air bersih,” kata Wally.
Pada sepekan pasca Bencana, warga terdampak bencana di Tapanuli Tengah kesulitan permakanan, sehingga sebagian kecil mereka sempat melakukan penjarahan toko ritel.
“Saat itu memang masyarakat terlihat panik. Kondisi belum kondusif. Kondisi itu tak lama mereda setelah petugas gabungan berupaya menyuplai kebutuhan logistik untuk mereka,” ungkap Wally.
Sambil memetakan lokasi bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah, Wally bersama tim advance lainnya juga mendistribusikan logistik permakanan ke daerah terpencil, salah satunya di daerah Gupit, Desa Huta Nabolon, Kecamatan Tukka.
“Daerah ini memang terisolir dengan ketebalan lumpur yang cukup tinggi, jadi harus ditembus menggunakan kendaraan 4X4 atau 4WD yang memiliki roda penggeraknya cukup kuat,” kata Wally.
“Beberapa kilo meter menuju titik lokasi tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan karena daerah perbukitan, kita bawa logistik dibantu TNI dengan medan yang cukup terjal,” katanya.
Wally menceritakan, ratusan petani di Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, yang mayoritas beragama Nasrani merasa terpukul. Sebab, menjelang dua pekan mereka akan merayakan Natal, namun rumah mereka hancur diterjang banjir dan tanah longsor. Tanaman padi dan buah-buahan yang sudah siap panen juga tergerus banjir bandang.
“Seharusnya mereka saat ini musim panen semua kebun buah-buahan maupun sawah padi. Pilu rasanya ketika mereka seharusnya bahagia merayakan lebaran mereka, ya inilah musibah,” ungkapnya.
Di Desa Huta Nabolon, Wally bersama tim Advance mendirikan dapur umum guna melayani kebutuhan permakanan warga disana. Tak lupa bagi keluarga yang memiliki balita, tim Baznas juga memenuhi kebutuhan makanan dan susu serta Pampers.
Huta Nabolon merupakan salah satu kawasan terdampak paling parah sejak bencana melanda pada 25 November lalu. Kerusakan terberat terkonsentrasi di Lingkungan IV, Lingkungan V, hingga tiga desa di sekitar bukit Sigiring-giring.
Material banjir telah menghancurkan rumah 150-200 kepala keluarga dan memutus jalan utama penghubung Huta Nabolon-Tukka. Akses yang terputus ini menyebabkan daerah tersebut masih sulit dijangkau bantuan hingga hari ke-13 masa tanggap darurat. Disana, area jalan banyak yang berubah menjadi sungai akibat derasnya air.
“Berdasarkan pengakuan warga, saat itu banyak korban yang tertimbun tim SAR gabungan berjibaku untuk menemukan korban yang tertimbun karena terbawa arus banjir,” ucapnya.
Tim advance Baznas juga di beberapa daerah terdampak bencana mendirikan dapur umum guna memenuhi kebutuhan makanan masyarakat disana. Tim advance yang hanya beberapa orang dibantu warga setempat dalam pengolahan permakanan di dapur umum.
“Warga disana sangat antusias ketika kita mendirikan dapur umum. Karena tidak ada gas kami bersama warga memasak menggunakan kayu bakar,” ujar Wally.
Dalam perjalanan misi kemanusiaan tersebut, Wally mendapatkan pengalaman berharga. Beragam kondisi lokasi dan masyarakat pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Tengah, sebagai seorang muslim, kondisi tersebut dijadikan untuk bermuhasabah. Peristiwa bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera sangat menyedihkan. Tak sedikit masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya tempat tinggal serta harta bendanya. Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam. Kehidupan di lokasi terdampak bencana mendadak berubah menjadi serba-sulit, kekurangan makanan, air bersih, tempat tinggal, dan sebagainya.
“Terima kasih Baznas Kota Tangerang telah memberikan pelajaran yang berharga bagi saya pribadi. Terima kasih kepada keluarga yang telah memberikan restu kepada saya dalam menjalani misi kemanusiaan. Dalam perjalanan saya selama dua pekan lebih menjadi bahan instrospeksi diri untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi,” tutupnya. (*)










