SMPN 28 Kota Tangerang Mantapkan Layanan Sekolah Inklusi

Wakasek bidang kurikulum, SMPN 28 Kota Tangerang, Udin Saputra.

CILEDUG, BANTENEKSPRES.CO.ID — SMP Negeri 28 Kota Tangerang terus menunjukkan komitmen kuat dalam menyelenggarakan pendidikan yang merata dan berkeadilan melalui program sekolah inklusi. Sejak 2023 sekolah tersebut ditunjuk secara resmi untuk aktif merangkul Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk belajar bersama siswa reguler dalam lingkungannya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 28 Kota Tangerang, Udin Saputra mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap penerapan program sekolah inklusi ini sangat tinggi. Menurutnya, orang tua kini semakin sadar bahwa anak-anak mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berbaur dan berinteraksi di sekolah umum.

Bacaan Lainnya

“Sejak 2023 kita ditunjuk sebagai sekolah penyelenggara inklusi. Ternyata antusias masyarakat itu tinggi, mereka merasa bahwa anaknya masih bisa berbaur dan berinteraksi dengan siswa di sekolah umum,” kata Udin saat ditemui, Kamis, 29 Oktober 2026.

“Kebetulan kita juga punya dua Guru Pendamping Khusus (GPK) yang kompeten di bidangnya,” sambungnya.

Dari segi kuota, kata Udin, SMPN 28 konsisten memenuhi alokasi sekitar 5 persen untuk siswa ABK jalur murni. Saat ini, tercatat ada 5 siswa ABK dari jalur murni yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Selain itu, lanjutnya, pihak sekolah juga proaktif melakukan asesmen lanjutan terhadap siswa di luar jalur yang menunjukkan indikasi kebutuhan khusus selama proses pembelajaran berlangsung. Hingga kini, terdapat sekitar 15 siswa tambahan yang terdeteksi masuk dalam kategori inklusi, seperti slow learner maupun ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Udin menekankan, pentingnya kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua dalam menghadapi temuan ini. Pihaknya selalu mengedukasi para orang tua agar tidak merasa berkecil hati apabila anak mereka terdeteksi memiliki kebutuhan khusus.

“Dengan anak ini sudah terdeteksi, kita sepakat untuk membimbing bersama. Kalau di sekolah oleh guru, di rumah adalah tugas orang tua. Kita lihat kendalanya di mana, apakah literasinya, cara membaca, atau menghitung. Melalui asesmen dan koordinasi dengan psikolog mitra, kita arahkan penanganannya agar anak bisa mengikuti pembelajaran seperti biasa,” jelasnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tangerang, khususnya Dinas Pendidikan Kota Tangerang, yang dinilai sangat responsif dan memerhatikan keberlangsungan program inklusi. Kehadiran program ini dinilai sangat efektif untuk menghilangkan rasa minder pada anak serta menumbuhkan rasa percaya diri.

“Jadi mereka juga memiliki hak yang sama dalam mengenyam pendidikan,” ujarnya.

Terkait fasilitas penunjang dan sarana prasarana, Udin mengakui, pemenuhan fasilitas sarana dan prasarana terus berjalan secara bertahap, baik dari segi peningkatan kapasitas tenaga pendidik maupun infrastruktur sekolah.

“Pemerintah Kota Tangerang sangat responsif dalam memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa berbaur bersama di sekolah reguler, menghindari minder, dan meningkatkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu,” pungkas Udin.

“Untuk sarana-prasarana dan guru pendamping, tentu kita penuhi secara bertahap,” pungkasnya.

Ia berharap, penerapan sekolah Inklusi ini dapat mewujudkan peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh, baik dari aspek akademik, karakter siswa, maupun tata kelola sekolah.(*)

Pos terkait