SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, mengunjungi Kementerian Pertanian dengan membawa petani jagung dan peternak di Kabupaten Serang.
Kunjungan tersebut dalam rangka melaksanakan Memorandum of Understanding (MoU) kemitraan, antara peternak dengan petani jagung dalam upaya mendukung pemasaran agar optimal.
Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo mengatakan, pada Selasa 27 Oktober 2026 lalu mendapatkan undangan dari Kementan untuk MoU kemitraan antara peternak dan petani jagung yang disaksikan langsung Menteri Pertanian.
“Kita berupaya mengoptimalkan pertanian jagung, dan mendukung pemasarannya agar optimal, MoU sudah kita lakukan, tanda tangan langsung di depan pak Menteri sebagai saksinya,” katanya kepada wartawan, Kamis 29 Oktober 2026.
Suhardjo mengatakan, di MoU tersebut tertuang bahwa hasil panen jagung diutamakan untuk para peternak di sekitar lokasi panen, apabila masih ada sisanya akan dikirimkan ke Bulog mereka wajib menyerapnya.
Saat MoU dengan Kementan, DKPP Kabupaten Serang membawa 20 petani jagung berasal dari Kecamatan Jawilan, Kopo, dan Kecamatan Anyer, serta satu koperasi peternak Kecamatan Cikeusal.
“Kita bawa mereka kesana, bahkan koperasi ini sudah mendapat kuota pembelian jagung dari Bulog untuk diolah menjadi pakan mandiri, dan biaya pakan harganya cukup tinggi jadi lebih banyak cost untuk pakan,” ujarnya.
Dikatakan Suhardjo, saat ini HPP jagung Rp5.500 per kilogram sementara untuk harga pasar sekitar Rp7.000 per kilogram, kemudian di Kabupaten Serang ini memiliki potensi lahan jagung sekitar 1.200 hektare.
Namun tahun ini baru bisa tertanam sekitar 500 hektare, dengan capaian produksinya sekitar 30 persen dari target 4.000 ton masih rendah sebab cuaca kemarau menjadi kendala, karena rata-rata lahan jagung merupakan tadah hujan, bukan sawah.
“Kita sudah mengajukan CPCL sekitar 247 hektare untuk kerja sama, dengan binaan Kopassus untuk motivasi petani. Karena motivasi petani menanam jagung, belum maksimal dibanding padi,” ucapnya.
Suhardjo mengaku, lebih sulit menemukan warga yang ingin menanam jagung daripada padi, sebab kalau petani padi mereka disuruh menanam mau karena masih terbilang mudah.
Berbeda dengan jagung yang rata-rata petaninya masih menunggu bantuan, kecuali di wilayah sentra jagung seperti Jawilan, Kopo, dan Anyar, yang tanpa disuruh pun sudah menanam sendiri.
“Untuk jagung ini warga berpikirnya sulit untuk bisa menjualnya, maka kita beri motivasi bahwa jangan khawatir kalau nanam mau dijual ke mana, tidak laku. Karena sekarang sudah ada yang menampung, baik dari peternakan maupun Bulog sudah aman untuk pemasarannya,” tuturnya.
Kata Suhardjo, produksi jagung lokal untuk dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak baru sekitar 30 persen di Kabupaten Serang, maka sebagian besar jagung ini masih ambil dari luar daerah.
“Tapi di Kabupaten Serang ada tujuh pabrik pakan, kalau perusahaan tidak menyerah ada dukungan dari TNI dan Bulog yang siap menyerapnya, petani kita tidak khawatir jagungnya tidak laku,” ujarnya. (*)









