KATAMATAKU UI Perkuat Kader Posyandu di Sitanala Tangerang, 66 Balita Jalani Pemeriksaan Kesehatan

KATAMATAKU UI Perkuat Kader Posyandu di Sitanala Tangerang, 66 Balita Jalani Pemeriksaan Kesehatan
Tim Katamataku beri peningkatan Kesehatan balita melalui penguatan kader Posyandu di Sitanala, Kota Tangerang. Foto (Ist)

NEGLASARI, BANTENEKSPRES.CO.ID – Tim KATAMATAKU Universitas Indonesia (UI) kembali turun ke masyarakat. Kali ini, kawasan Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, menjadi sasaran pengabdian masyarakat untuk memperkuat deteksi dini dan penanganan stunting.

Kegiatan bertajuk Intervensi Berbasis Komunitas untuk Deteksi Dini Stunting dan Peningkatan Kesehatan Balita melalui Penguatan Kader Posyandu di Sitanala Tangerang tersebut dipusatkan di Posyandu Kuntum Mekar dan didukung Hibah Pengabdian Masyarakat Dosen Universitas Indonesia 2026.

Bacaan Lainnya

Sitanala dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki rekam jejak sebagai daerah endemis kusta dan sebelumnya menjadi wilayah binaan KATAMATAKU UI. Hubungan dengan masyarakat yang telah terbangun menjadi modal untuk memperluas intervensi pada persoalan kesehatan lain yang menjadi prioritas nasional, yakni stunting.

Berdasarkan skrining kesehatan yang dilakukan pada 2024 terhadap 124 balita, tercatat 31 balita atau 25 persen mengalami stunting. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan prevalensi stunting di Provinsi Banten.

Kondisi itu menunjukkan persoalan stunting di Sitanala masih membutuhkan intervensi yang konsisten dan berkelanjutan.

Ketua Tim KATAMATAKU UI Prof Dr dr Yunia Irawati, SpM(K), mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi antara KATAMATAKU UI, Puskesmas Neglasari, Pemerintah Kecamatan Neglasari, serta sejumlah mitra lokal.

“Pengabdian masyarakat ini merupakan bentuk sinergi strategis yang bertujuan meningkatkan akses layanan kesehatan, memberikan edukasi gizi, serta memperkuat kapasitas tenaga medis dan kader kesehatan daerah dalam memerangi stunting,” ujarnya.

Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak FKUI, Dr Titis Prawitasari, SpA(K), menambahkan, penguatan kapasitas kader menjadi salah satu kunci agar deteksi dini dan intervensi kesehatan balita dapat dilakukan secara optimal di tingkat masyarakat.

“Melalui pendekatan berbasis komunitas dan penguatan kapasitas kader Posyandu, kami berharap upaya deteksi dini dan intervensi kesehatan balita di wilayah Sitanala dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, tim KATAMATAKU UI melakukan sejumlah kegiatan. Mulai evaluasi dan edukasi bagi tenaga kesehatan serta kader kesehatan, pemeriksaan komprehensif multidisiplin, hingga pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita.

Sebelumnya, tim juga telah menggelar kegiatan pendahuluan berupa lomba kreasi makanan pendamping ASI dan makanan balita sekaligus edukasi gizi bagi kader kesehatan pada 24 Agustus 2026.

Pemeriksaan Lintas Disiplin

Pemeriksaan komprehensif dilakukan dengan melibatkan sejumlah tenaga ahli dari berbagai bidang. Sasaran pemeriksaan tidak hanya balita, tetapi juga ibu hamil dan ibu balita.

Pemeriksaan antropometri berupa pengukuran tumbuh kembang balita dilakukan kader kesehatan setempat di bawah supervisi Tim Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI.

Selanjutnya, dilakukan skrining kesehatan mata oleh dokter spesialis mata dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI bersama refraksionis. Pemeriksaan kulit dilakukan dokter spesialis kulit dan kelamin dari Departemen Dermato Venereologi FKUI.

Pemeriksaan gigi dan mulut bagi balita serta ibu hamil dan ibu balita juga dilakukan oleh dokter gigi spesialis penyakit mulut dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI.

Sementara itu, fungsi oromotor balita diperiksa dokter spesialis rehabilitasi medik dari Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (IKFR) FKUI.

Penanggung jawab kegiatan, Dr dr Gitalisa Andayani, SpM(K), mengatakan kegiatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Sebanyak 33 tenaga kesehatan dan kader kesehatan mengikuti edukasi, sementara pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap 66 bayi dan balita serta 54 ibu hamil dan ibu balita.

“Dalam kegiatan pengabdian masyarakat hari ini telah dilakukan edukasi pada 33 tenaga kesehatan dan kader kesehatan, pemeriksaan kesehatan pada 66 bayi dan balita, serta pemeriksaan kesehatan pada 54 ibu hamil dan ibu balita,” ujarnya.

Dia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak sehingga seluruh kegiatan berlangsung lancar, dan semoga bermanfaat bagi masyarakat wilayah Sitanala, khususnya dalam pencegahan stunting,” katanya.

Kepala Puskesmas Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, dr Sakuncoro, menilai dukungan pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan Puskesmas Neglasari menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program.

“Dukungan penuh dari pemangku kepentingan tingkat kecamatan dan Puskesmas Neglasari menjadi pilar penting terlaksananya kegiatan ini. Langkah bersama ini diharapkan mampu mencetak kader kesehatan yang mandiri serta mewujudkan generasi bebas stunting di wilayah Tangerang,” ungkapnya.

Tim KATAMATAKU (Identifikasi Tanda-tanda Mata, Ekstremitas, Kulit pada Kusta) diinisiasi oleh KSM Ilmu Kesehatan Mata, KSM Dermatologi dan Venereologi, serta KSM Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FKUI-RSCM.

Sejak 2018, KATAMATAKU UI secara rutin menjalankan berbagai program hibah pengabdian masyarakat. Pemrakarsa sekaligus ketua saat ini adalah Prof Dr dr Yunia Irawati, SpM(K).

Program KATAMATAKU UI terbagi dalam tiga tema besar, yakni kesehatan, anti-stigma, dan agroekonomi.

Secara konsisten, program tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan dengan tujuan utama meningkatkan kualitas hidup pasien kusta dan orang yang pernah menderita kusta melalui berbagai intervensi yang menyasar pasien, keluarga pasien, maupun masyarakat umum. (*)

Pos terkait