SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pernah merasakan lutut nyeri saat naik tangga, sulit berdiri setelah duduk terlalu lama, atau panggul terasa sakit ketika berjalan? Keluhan ini sering dianggap sebagai hal biasa, terutama seiring bertambahnya usia.
Padahal, jika terus berulang dan semakin mengganggu aktivitas, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya kerusakan sendi yang memerlukan penanganan medis.
Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah osteoartritis atau pengapuran sendi, yaitu kondisi ketika bantalan tulang rawan pada sendi mengalami kerusakan secara bertahap.
Akibatnya, sendi menjadi nyeri, kaku, dan sulit digerakkan. Kondisi ini tidak hanya dialami lansia, tetapi juga dapat terjadi pada orang dengan berat badan berlebih, riwayat cedera, atau aktivitas yang memberikan tekanan berulang pada sendi. Selain itu, kerusakan sendi dapat dipicu penyakit radang sendi, patah tulang, maupun gangguan aliran darah ke tulang.
Kenali Gejala Kerusakan Sendi
Menurut dr. Yosia Handoko, Sp.OT, FICS, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di Bethsaida Hospital Serang, nyeri sendi perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kerusakan sendi panggul dapat menyebabkan nyeri di selangkangan, panggul, atau paha, disertai kesulitan berjalan dan menggerakkan kaki. Sementara itu, kerusakan sendi lutut sering menimbulkan nyeri saat berdiri, berjalan, atau naik tangga, lutut terasa kaku dan bengkak, hingga perubahan bentuk kaki menjadi O atau X.
“Nyeri sendi yang terus berulang dan mulai membatasi aktivitas perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab serta tingkat kerusakannya. Penanganan yang tepat dapat membantu mempertahankan fungsi gerak dan kualitas hidup pasien,” jelas dr. Yosia.
Apakah Kerusakan Sendi Harus Dioperasi?
Tidak semua kerusakan sendi memerlukan operasi. Dokter terlebih dahulu melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi sendi dan kemampuan bergerak, dilengkapi rontgen atau MRI sesuai kebutuhan.
Pada kondisi tertentu, penanganan dapat dilakukan melalui obat antinyeri, fisioterapi, latihan penguatan otot, pengaturan aktivitas, dan pengendalian berat badan. Namun, jika kerusakan sudah berat dan penanganan tanpa operasi tidak lagi efektif, tindakan penggantian sendi dapat menjadi pilihan.
Mengenal Perbedaan THR dan TKR
Meskipun sama-sama bertujuan mengganti bagian sendi yang rusak dengan implan buatan, Total Hip Replacement (THR) dan Total Knee Replacement (TKR) dilakukan pada lokasi berbeda.
● Total Hip Replacement (THR) – Penggantian Sendi Panggul
THR merupakan operasi penggantian sendi panggul yang menghubungkan tulang paha dengan tulang panggul. Sendi ini berperan menopang tubuh dan membantu gerakan kaki saat berjalan. Melalui THR, dokter mengganti kepala tulang paha serta permukaan rongga sendi panggul yang rusak dengan implan buatan. Tindakan ini dapat dipertimbangkan pada pengapuran panggul berat, kerusakan tulang akibat gangguan aliran darah, atau patah tulang panggul tertentu.
● Total Knee Replacement (TKR) – Penggantian Sendi Lutut
Berbeda dengan THR, TKR merupakan operasi penggantian permukaan sendi lutut yang menghubungkan tulang paha dan tulang kering. Sendi lutut berfungsi menopang berat badan serta membantu gerakan menekuk dan meluruskan kaki.
Pada TKR, permukaan sendi lutut yang rusak diganti dengan komponen implan buatan. Tindakan ini umumnya dipertimbangkan pada pengapuran lutut berat, radang sendi kronis, atau kerusakan akibat cedera.
“THR dilakukan pada sendi panggul, sedangkan TKR pada sendi lutut. Keduanya bertujuan mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi sendi, dan membantu pasien kembali beraktivitas dengan lebih nyaman,” terang dr. Yosia.
Kembali Bergerak, Meningkatkan Kualitas Hidup
Setelah operasi, pasien menjalani rehabilitasi dan fisioterapi secara bertahap untuk memulihkan kekuatan otot, kelenturan sendi, serta kemampuan berjalan. Lama pemulihan berbeda pada setiap pasien sesuai kondisi kesehatannya.
Melalui Orthopaedi & Trauma Center, Bethsaida Hospital Serang menghadirkan layanan penanganan gangguan tulang, sendi, dan cedera, didukung dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, fasilitas X-ray, CT Scan 128 Slice, MRI 1.5 Tesla, kamar operasi, serta rehabilitasi medik.
Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta Mulya Juandi menambahkan, penanganan gangguan tulang dan sendi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari ketepatan diagnosis, pemilihan tindakan medis, hingga rehabilitasi yang berkesinambungan. Melalui Orthopaedi & Trauma Center.
“Kami terus memperkuat layanan yang didukung tenaga medis berkompeten dan fasilitas modern. Bagi kami, keberhasilan penanganan bukan hanya diukur dari berkurangnya nyeri, tetapi juga dari kemampuan pasien untuk kembali bergerak, mempertahankan kemandirian, dan menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” tutup dr. Tirta Mulya Juandi. (*)











