CIPUTAT, BANTENEKSPRES.CO.ID – Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah mendorong Pemkot Tangsel memasukkan pembelajaran Al Quran sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) negeri.
Usulan tersebut disampaikan Dimyati saat menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-17 tingkat Kota Tangsel di halaman Balai Kota Tangsel, Ciputat, Jumat, 6 November 2026 malam.
Menurutnya, pembelajaran Al Quran sejak usia dini penting untuk membentuk generasi muda yang religius dan memiliki pemahaman agama yang kuat. Terlebih, saat ini anak-anak menghadapi tantangan perkembangan teknologi, media sosial dan penggunaan gawai yang dinilai dapat mengurangi kebiasaan membaca kitab suci.
Dia mengusulkan, siswa SD mendapatkan pembelajaran membaca dan menghafal Juz Amma. Sementara untuk jenjang SMP, materi pembelajaran Al Quran dapat ditingkatkan hingga delapan juz.
“Kalau bisa Pak Wali, SD dan SMP-nya ada muatan lokal. Anak-anak belajar Al Quran. Untuk SD misalnya Juz Amma, kemudian SMP diajarkan Al Quran sampai delapan juz,” ujarnya, Jumat, 6 November 2026.
Dimyati menilai, usia anak-anak merupakan masa emas atau golden age sehingga menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan. Dengan pembelajaran tersebut, diharapkan lulusan sekolah umum di Tangsel tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu membaca dan mengamalkan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kemampuan membaca Al Quran juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas Banten sebagai daerah religius. Generasi muda diharapkan memiliki kemampuan membaca Al Quran, memimpin doa hingga menjadi imam ketika dibutuhkan.
Dia juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap Al Quran tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kemampuan membaca. “Ada tiga hal yang harus dilakukan, yakni membaca, menghayati dan mengamalkan isi kandungannya,” tambahnya.
Dimyati mengibaratkan Al Quran sebagai kompas yang memberikan arah dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana kapal membutuhkan kompas untuk menentukan arah perjalanan, manusia juga membutuhkan Al Quran dan hadis sebagai pedoman hidup.
“Identitas Banten sebagai daerah religius harus tercermin dari kemampuan masyarakatnya dalam membaca Al Quran, memimpin doa hingga menjadi imam ketika dibutuhkan,” jelasnya.
Selain menyampaikan usulan tersebut, Dimyati mengapresiasi penyelenggaraan MTQ ke-17 Tangsel yang diikuti 462 kafilah dari tujuh kecamatan. Dia juga memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan cabang tartil Al Quran isyarat bagi penyandang disabilitas rungu wicara.
Menurutnya, perlombaan tersebut menunjukkan kepedulian terhadap penyandang disabilitas agar mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengembangkan kemampuan membaca Al Quran.
Sementara itu, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan membaca dan menghafal Al Quran. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya bersama membumikan Al Quran dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pelaksanaan MTQ dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan kualitas. Pada tahun ini, sebanyak 462 kafilah terbaik dari tujuh kecamatan turut ambil bagian. “Terdapat 11 cabang yang diperlombakan di sejumlah venue, di antaranya arena utama Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, Aula Baznas Kota Tangsel dan SMPN 18 Tangsel,” ujarnya.
Cabang yang diperlombakan meliputi seni baca Al Quran, qira’at A Quran, hafalan Al Quran, tafsir Al Quran, fahmi Al Quran, syarh Al Quran, seni kaligrafi Al Quran, karya tulis Al Quran, hafalan Al Hadis dan qira’atul kutub.
Selain cabang utama, panitia juga menghadirkan sejumlah cabang eksibisi, yakni tilawah bagi ASN, TNI-Polri dan instansi vertikal, tartil Al-Qur’an isyarat bagi penyandang disabilitas rungu wicara serta festival seni islami.
“Melalui kegiatan ini kita berharap dapat melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia dan berintegritas,” jelasnya.
Benyamin juga menyampaikan apresiasi kepada LPTQ Kota Tangsel, Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), Forkopimda, alim ulama, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut.
Meski diselenggarakan di tengah kebijakan efisiensi anggaran, dia menilai MTQ tetap dapat terlaksana dengan baik berkat sinergi berbagai pihak. Kepada seluruh kafilah, Benyamin berpesan agar menunjukkan kemampuan terbaik, menjaga sportivitas dan menjadikan MTQ sebagai momentum mempererat ukhuwah Islamiyah.
“Jadikan momentum MTQ ini untuk saling mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah di antara kita sekalian,” pesannya.
Di tempat yang sama, Ketua Harian LPTQ Kota Tangsel Muhammad Sobron mengatakan, MTQ merupakan agenda rutin pemerintah daerah yang diselenggarakan secara berjenjang mulai tingkat kelurahan, kecamatan hingga kota.
Pada MTQ ke-17 tahun ini, LPTQ melaporkan terdapat 36 cabang yang dimusabaqahkan dalam 15 arena atau venue di sekitar kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangsel.
Para peserta yang berhasil menjadi juara di tingkat kecamatan akan mewakili wilayahnya pada MTQ tingkat kota. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang penjaringan dan persiapan qori-qoriah serta hafiz-hafizah terbaik untuk menghadapi MTQ tingkat Provinsi Banten pada April 2027 mendatang.
“MTQ diharapkan tidak hanya melatih mental para peserta, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan dan kedekatan masyarakat terhadap Al Quran. Sehingga lahir masyarakat Qurani yang mampu memimpin peradaban masa depan dengan keberkahan Al Quran,” ujarnya, Jumat, 6 November 2026.
Sobron menjelaskan, rangkaian kegiatan diawali dengan pendaftaran peserta pada 4 November 2026. Selanjutnya, digelar technical meeting dan orientasi dewan hakim sebelum pembukaan resmi.
Babak penyisihan dilaksanakan sehari setelah pembukaan di seluruh majelis. Kemudian, babak final digelar pada Minggu pagi dan dilanjutkan penutupan pada malam harinya di arena utama.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, LPTQ Tangsel juga menghadirkan sejumlah inovasi. Salah satunya memperluas pelaksanaan MTQ yang sebelumnya diperuntukkan bagi aparatur sipil negara (ASN), menjadi MTQ ASN, TNI dan Polri.
“Melalui inovasi tersebut, LPTQ membuka kesempatan bagi ASN pemerintah daerah, instansi vertikal serta anggota TNI-Polri yang memiliki kemampuan membaca Al Quran untuk mengikuti perlombaan,” tambahnya.
Selain itu, MTQ Murattal Disabilitas Rungu Wicara juga kembali digelar. Cabang tersebut memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan membaca Al Quran melalui metode isyarat.
Bahkan, berdasarkan informasi yang diterima LPTQ Tangsel, musabaqah bagi penyandang disabilitas rungu wicara direncanakan menjadi salah satu cabang yang diperlombakan dalam MTQ Nasional 2027 di Provinsi DKI Jakarta.
“Ini menjadi kebanggaan karena LPTQ Kota Tangsel telah mempelopori penyelenggaraannya. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk memberikan perhatian kepada saudara-saudara kita penyandang disabilitas rungu wicara,” ungkapnya,” jelasnya.
Diketahui, MTQ ke-17 Kota Tangsel berlangsung 6 hingga 8 November 2026 dan diikuti 462 kafilah dari tujuh kecamatan dan dilaksanakan di lingkungan Balai Kota Tangsel, Ciputat. Rencanya, pada Minggu, 8 November 2026 malam akan dilakukan pengumuman siapa yang menjadi juara.
Pembukaan MTQ diawali dengan defile atau pawai kafilah dari masing-masing kecamatan. Kecamatan Pamulang mendapat giliran pertama sebagai sembilan kali juara umum sekaligus juara bertahan. Kemudian disusul Kecamatan Setu, Ciputat Timur, Pondok Aren, Serpong Utara, Ciputat dan Serpong.
Pawai tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan unsur pemerintah kecamatan, kepolisian, TNI, para kiai, ustaz dan masyarakat.
Kegiatan yang mengusung tema Membumikan Al Quran, Membangun Peradaban, Mewujudkan Tangerang Selatan yang Religius, Harmonis dan Berkemajuan itu turut dihadiri Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan, Ketua MUI Kota Tangsel Saidih, Kepala Kantor Kemenag Tangsel Dedi Mahfudin, Ketua DPRD Tangsel Abdul Rosid dan jajaran Forkopimda. (*)











