879 Balita Kota Tangsel Terdeteksi Stunting, Pos Gizi Diperluas

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan (tengah) didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tangsel Syahlan King Syahnan Siregar foto bersama anak-anak saat peresmian Pos Gizi Matahari di Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

SETU, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemkot Tangsel memperkuat intervensi masalah gizi dan stunting melalui pengembangan Pos Gizi di tingkat kelurahan. Langkah tersebut dilakukan menyusul masih ditemukannya kasus stunting, termasuk enam kasus baru di Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, pemenuhan gizi harus dilakukan sejak masa kehamilan sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan saat menghadiri pengembangan Pos Gizi Matahari di Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu, Selasa, 22 September 2026.

“Kita membangun Kota Tangsel itu harus didasarkan oleh membangun sumber daya manusianya. Tanpa sumber daya manusia yang unggul, tidak mungkin kota ini bisa maju,” ujarnya, Selaaa, 22 September 2026.

Menurut Pilar, pembangunan kota tidak cukup hanya melalui infrastruktur, pendidikan maupun program sosial ekonomi. Kesehatan masyarakat, khususnya ibu hamil, bayi dan balita, juga harus menjadi perhatian.

Ia mengingatkan pentingnya periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang perlu dilakukan secara optimal.

“Bagaimana Pemkot Tangsel bersama dengan masyarakat bisa memberikan perhatian bagi para ibu hamil, menyusui dan balita kita. Supaya mereka tumbuh kembang dengan kondisi yang baik,” tambahnya.

Pilar mengibaratkan pemenuhan gizi sejak masa kehamilan seperti membangun sebuah rumah. Fondasi harus disiapkan dengan baik agar bangunan yang dihasilkan kuat dan kokoh.
Karena itu, ia meminta edukasi mengenai makanan bergizi diberikan sejak sebelum kehamilan hingga anak memasuki masa balita.

Pos Gizi, menjadi salah satu sarana pemerintah untuk memberikan edukasi sekaligus intervensi terhadap persoalan gizi. Program tersebut telah berjalan sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kini cakupannya terus diperluas.

“Pos Gizi ini manfaatnya melalui langkah sosialisasi, promotif, preventif,” jelasnya.

Melalui Pos Gizi, kader kesehatan dan Posyandu diharapkan memberikan edukasi kepada calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui dan orang tua balita mengenai makanan bergizi, pola asuh serta pentingnya menjaga kesehatan anak.

Pilar juga meminta jajaran kecamatan, kelurahan, RT, RW dan kader Posyandu memastikan tidak ada ibu hamil, ibu menyusui maupun balita yang kekurangan gizi karena keterbatasan ekonomi.

“Kalau sampai ada yang kurang gizi, itu dosa kita semua. Minimal kita back up dulu. Yang penting ibu ini jangan sampai karena kondisi ekonomi tidak mampu memberikan anaknya asupan makanan yang baik,” tegasnya.

Pilar yang juga Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) Kota Tangsel menyebut sekitar 879 balita di Tangsel terdeteksi stunting. Meski jumlah tersebut berada di bawah satu persen, pemerintah tetap melakukan intervensi agar kasusnya terus menurun.

“Memang angkanya di bawah 1 persen, tapi tentu itu tetap harus kita intervensi supaya angkanya terus menurun dan harapan ke depannya balita di Tangerang Selatan terbebas daripada stunting,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan setiap anak tidak dapat disamaratakan. Lama intervensi bergantung pada kondisi masing-masing anak, mulai dari malnutrisi, berat badan kurang hingga persoalan pertumbuhan lainnya. “Intervensinya beda-beda, bisa mingguan, bisa bulanan, bahkan bisa tahunan,” jelasnya.

Karena itu, peran Posyandu dan kader kesehatan penting untuk melakukan pengukuran serta pemantauan pertumbuhan anak secara berkala. Jika pertumbuhan anak belum sesuai target, intervensi dapat segera dilakukan, terutama pada periode 1.000 HPK.

Pilar mengatakan faktor ekonomi dan pengetahuan masyarakat mengenai makanan bergizi juga menjadi tantangan dalam pemenuhan gizi. Pemerintah memberikan makanan tambahan bergizi bagi balita serta ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan.
Pemberian makanan tambahan di Pos Gizi dilakukan lima kali dalam satu bulan.

Dari pemantauan awal, Pilar menyebut terdapat perkembangan positif dari sisi berat dan tinggi badan anak yang mengikuti intervensi.
“Alhamdulillah, dari segi berat badan meningkat, tinggi badannya sesuai dengan target pencapaian. Ya mudah-mudahan tumbuh kembang otaknya juga sama,” katanya.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangsel Lilis Suryani mengatakan, Pos Gizi di Bakti Jaya menjadi salah satu titik fokus intervensi bagi 20 balita. Menurutnya, Pos Gizi tidak hanya menjadi tempat pemberian makanan bersama.

Para ibu juga mendapatkan edukasi mengenai komposisi makanan bergizi seimbang, kesehatan gigi dan mulut, serta perilaku hidup bersih dan sehat. “Pos Gizi ini tidak hanya makan bersama balitanya, tetapi nanti ibu-ibunya akan mendapat edukasi bagaimana komposisi makanan yang bergizi seimbang sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.

Lilis menjelaskan, program Pos Gizi dilaksanakan selama tiga bulan dengan konsep lima hari makan bersama setiap bulan. Setelah intervensi awal tersebut, keberlanjutan program diharapkan mendapat dukungan dari kader, masyarakat, kecamatan, kelurahan, Baznas maupun pihak lainnya.

“Karena memang ada keterbatasan anggaran, Pos Gizi ini nanti tidak akan selamanya dibiayai oleh pemerintah,” jelasnya.

Selain faktor asupan makanan, Dinkes juga menemukan sejumlah faktor lain dalam audit kasus stunting, seperti paparan asap rokok terhadap ibu hamil serta kondisi lingkungan, termasuk kualitas air dan sanitasi.

Khusus di Bakti Jaya, Lilis menyebut terdapat enam kasus baru yang telah terdeteksi. Kasus tersebut akan menjadi sasaran intervensi agar status gizinya dapat diperbaiki sekaligus mencegah munculnya kasus baru. “Justru ini bagus, malah terdeteksi. Jadi kita tidak lambat dalam mengintervensi,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tangsel Syahlan King Syahnan Siregar mengatakan, pada 2026 pemerintah mengembangkan tujuh Pos Gizi baru yang tersebar di tujuh kecamatan.

Ketujuh lokasi tersebut berada di Kelurahan Pamulang Barat, Bakti Jaya, Cirendeu, Jombang, Jelupang, Lengkong Gudang dan Pondok Benda. Masing-masing Pos Gizi memiliki sasaran 20 balita, sehingga total terdapat 140 balita yang menjadi sasaran pengembangan tahun ini.

  • Pemkot Tangsel menargetkan pengembangan Pos Gizi secara bertahap hingga mencapai 108 Pos Gizi pada 2029. “Pengembangan Pos Gizi merupakan bagian dari upaya memperluas dan memperkuat intervensi gizi berbasis masyarakat,” ujarnya.

Syahlan menambahkan, keberhasilan perbaikan gizi dan penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh Dinas Kesehatan. Pelaksanaan Pos Gizi melibatkan kecamatan, kelurahan, puskesmas, tenaga kesehatan, kader, lintas sektor hingga keluarga.

Intervensi melalui Pos Gizi dilakukan selama tiga bulan dengan dukungan anggaran Dinas Kesehatan. Setelah itu, keberlanjutan program diharapkan mendapat dukungan dari kecamatan dan kelurahan.

Pilar menegaskan, pembangunan kualitas SDM harus dimulai sejak anak berada dalam kandungan. “Karena itu, penanganan masalah gizi menjadi tanggung jawab bersama agar generasi Tangsel tumbuh sehat dan mampu berkembang di masa depan,” tutupnya. (*)

 

 

Pos terkait