Annisa Mahesa Ingatkan Gen Z Jangan Investasi karena FOMO

Annisa Mahesa Ingatkan Gen Z Jangan Investasi karena FOMO
Annisa Mahesa menerima cindera mata pada kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin. Foto (Ist)

SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Anggota Komisi XI DPR RI Daerah Pemilihan Banten II, Annisa Mahesa, mengingatkan generasi Z agar tidak mengambil keputusan investasi hanya karena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut tertinggal tren.

Pesan tersebut disampaikan Annisa saat memberikan edukasi keuangan kepada mahasiswa melalui kegiatan Lite-It! (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Rabu (9/9/2026).

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni serta Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono.

Annisa menilai, perkembangan platform digital membuat akses generasi muda terhadap berbagai produk investasi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko ketika keputusan investasi hanya didasarkan pada konten viral atau rekomendasi di media sosial.

Menurutnya, investasi seharusnya dimulai dari kondisi keuangan yang sehat, seperti memiliki dana darurat dan menyelesaikan utang konsumtif. Setelah itu, instrumen investasi harus dipilih berdasarkan tujuan, kemampuan finansial, jangka waktu, dan tingkat risiko masing-masing.

“Jangan sampai kita kenal produknya dulu, tetapi belum kenal diri sendiri. Sebelum membeli, kita harus tahu uang ini untuk apa, kapan akan digunakan, dan seberapa besar risiko yang sanggup kita terima,” ujar Annisa.

Ia juga mengingatkan calon investor untuk menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis. Artinya, masyarakat harus memastikan produk maupun pihak yang menawarkan investasi memiliki izin, sekaligus menilai apakah keuntungan yang ditawarkan masuk akal dibandingkan dengan risiko yang harus ditanggung.

Untuk mencegah keputusan impulsif akibat FOMO, Annisa menyarankan calon investor memberikan jeda setidaknya 24 jam setelah menemukan rekomendasi investasi yang sedang viral.

Ia juga mendorong mahasiswa mengajukan tiga pertanyaan sebelum mengambil keputusan, yakni apa risikonya, siapa yang mendapatkan keuntungan jika ikut, serta apakah pihak yang memberikan rekomendasi memiliki kewenangan atau izin sebagai penasihat investasi.

“Kalau semua orang membeli sesuatu, itu bukan berarti kita juga harus membeli. Kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: saya membeli karena memang paham produknya atau karena takut ketinggalan?” katanya.

Annisa turut mengingatkan agar grup Telegram, WhatsApp maupun komunitas digital tidak dijadikan satu-satunya sumber analisis investasi. Sebab, kondisi tersebut dapat mendorong perilaku herding, yakni kecenderungan mengikuti keputusan mayoritas tanpa melakukan analisis secara mandiri.

Ia berharap edukasi keuangan bagi mahasiswa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang dekat dengan karakter Gen Z, seperti micro-learning, kompetisi, hingga program sertifikasi.

Menurut Annisa, literasi keuangan juga harus membekali anak muda dengan kemampuan mengenali berbagai bias perilaku, seperti FOMO, herding, overconfidence, dan loss aversion. Selain itu, mahasiswa perlu memahami kanal informasi dan pengaduan resmi OJK.

“Anak muda sekarang punya akses informasi yang luar biasa besar. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memilah informasi dan mengambil keputusan dengan kepala dingin,” tuturnya.

Melalui kegiatan Lite-It!, Annisa berharap mahasiswa tidak hanya mengenal berbagai instrumen investasi, tetapi juga mampu membangun kebiasaan finansial yang sehat.

“Investasi itu bukan perlombaan siapa yang paling cepat ikut tren. Yang penting kita tahu apa yang kita lakukan dan siap dengan risikonya. Jangan sampai karena takut ketinggalan, justru kita kehilangan uang yang sudah susah payah kita kumpulkan,” pungkas Annisa. (*)

Pos terkait