Banten Dilanda 1.726 Bencana

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Luthfi Mujahiddin saat diwawancarai di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Senin 2 November 2026.

 

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten merekapitulasi kejadian bencana alam dan insiden darurat sepanjang periode Januari hingga September 2026. Tercatat sebanyak 1.726 kejadian bencana melanda wilayah Provinsi Banten, yang mengakibatkan 116.894 jiwa terdampak.

Bacaan Lainnya

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Luthfi Mujahidin, mengatakan berdasarkan data hidrometeorologi, dinamika bencana di Provinsi Banten terbagi menjadi dua fase utama, yakni ancaman hidrometeorologi basah yaitu banjir dan cuaca ekstrem pada awal tahun, serta ancaman hidrometeorologi kering atau kekeringan pada pertengahan hingga akhir kuartal ketiga.

“Dinamika bencana di Provinsi Banten ini ada dua fase, yaitu itu hidrometeorologi Basar dan kering,” katanya, Senin 2 November 2026.

Luthfi menyebutkan, pada awal tahun banjir dan cuaca ekstrim mendominasi kebencanaan, adapun banjir menjadi bencana paling dominan dengan total 717 kejadian atau sekitar 41,5 persen.

“Puncak kejadian banjir terjadi pada bulan Januari dengan 264 kejadian serta Maret dengan 96 kejadian,” ujarnya.

Bencana banjir mencatatkan dampak sosial terbesar, dengan 69.559 jiwa terdampak serta ribuan pemukiman warga terendam di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Pandeglang, Lebak, Tangerang, dan Kota Serang.

Selain banjir, Cuaca Ekstrem dan Pohon Tumbang menyumbang 433 kejadian atau 25,1 persen. Terjangan angin kencang dan hujan lebat mengakibatkan kerusakan sedikitnya 23 unit rumah warga mengalami rusak berat hingga ringan, serta memicu puluhan pohon tumbang yang mengganggu jalur transportasi utama.

“Sementara itu, bencana Tanah Longsor dan Pergerakan Tanah tercatat sebanyak 112 kejadian 6,5 persen, dominan terjadi di area perbukitan dan bantaran sungai,” ungkapnya.

Sementara kata Luthfi, gelombang bencana beralih ke kekeringan pada pertengahan tahun. Bencana kekeringan mencatatkan 402 kejadian atau sekitar 23,3 persen, dengan lonjakan drastis terjadi pada bulan Agustus mencapai 336 kejadian. Dampak kekeringan meluas di berbagai wilayah pedesaan dan perkotaan, menyebabkan 46.696 jiwa mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian.

“Jadi fokus penanganan bencana bergeser pada krisis air bersih akibat kekeringan,” ungkapnya.

Selain bencana alam, ia mengaku Tim Reaksi Cepat (TRC) dan pemadam kebakaran juga menangani 30 aksi evakuasi non-bencana seperti evakuasi sarang tawon, ular, dan penyelamatan warga, 21 insiden kebakaran permukiman dan lahan, serta 11 operasi pencarian dan pertolongan rescue.

Kepala BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca ekstrem saat memasuki masa transisi pancaroba.

“Makanya kita juga mengantisipasi risiko bencana lanjutan, lewat koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, pendistribusian air bersih, serta pemangkasan pohon rawan tumbang,” paparnya. (*)

 

Pos terkait