TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Tangerang belum memastikan kapan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka kembali digelar di tengah aktivitas erupsi yang masih berlangsung. Untuk sementara, para siswa masih mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah melalui sistem daring.
Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, mengatakan kebijakan tersebut akan terus dievaluasi dengan melihat perkembangan aktivitas erupsi hingga malam hari. Jika kondisi mulai membaik dan tingkat erupsi menurun, siswa akan kembali mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah.
Sebaliknya, jika aktivitas erupsi masih berlangsung, pemerintah daerah akan kembali memperpanjang PJJ.
“Jadi, sampai saat ini kita semua masih proses belajar jarak jauh. Anak murid kita, siswa-siswinya masih di rumah belajarnya melalui sistem aplikasi daring,” ujar Maesyal usai Rapat Paripurna di DPRD Kabupaten Tangerang, Rabu 9 September 2026.
Ia menjelaskan, keputusan mengenai pelaksanaan pembelajaran pada hari berikutnya biasanya ditetapkan pada malam hari. Hal tersebut dilakukan agar pemerintah memiliki waktu untuk melihat perkembangan kondisi terbaru sebelum menentukan apakah siswa sudah aman untuk kembali ke sekolah.
“Karena hari Minggu malam juga kita keputusannya pukul 00.00, supaya hari Senin bisa kita secara daring belajarnya. Jadi nanti kita lihat malam ini, kalau sudah mulai menurun tingkat erupsinya, kita akan pulihkan kembali keputusannya yaitu mulai melaksanakan proses belajar-mengajar siswa-siswi ini secara fisik hadir ke sekolah,” jelasnya.
Namun, Maesyal menegaskan bahwa apabila hingga malam hari aktivitas erupsi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, keputusan untuk menunda pembelajaran tatap muka akan kembali diambil.
“Tetapi kalau misalnya sampai malam juga masih terus erupsi ini, ya kita tunda kembali,” katanya.
Menurut Maesyal, keputusan mempertahankan PJJ diambil bukan tanpa alasan. Pihaknya memilih langkah pencegahan untuk menghindari risiko kesehatan yang mungkin dialami siswa jika mereka kembali beraktivitas di sekolah saat kondisi belum benar-benar aman.
Ia menekankan, keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam mengambil keputusan.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik kita antisipasi daripada kita merespon pada akhirnya ada korban masyarakat kita,” tegasnya.
Maesyal mengingatkan bahwa dampak erupsi tidak hanya berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan. Paparan material erupsi, menurutnya, dapat menimbulkan gangguan pernapasan maupun masalah pada mata dan kulit.
“Jangan sampai ada korban masyarakat kita, apakah itu terkena ISPA atau juga mata, kulit, dan lain sebagainya. Lebih baik kita mencegah, ya. Lebih baik mencegah,” ujarnya.
Ia menilai, apabila proses belajar mengajar tatap muka harus ditunda selama beberapa hari, pemerintah masih memiliki kesempatan untuk melakukan pemulihan kegiatan pembelajaran.
Maesyal menyebut penundaan selama tiga hingga lima hari masih dapat dicari solusinya melalui penyesuaian jadwal atau metode pembelajaran. Namun, apabila kesehatan siswa sudah terdampak, persoalannya akan jauh lebih sulit untuk dipulihkan.
“Kan kalau proses belajar-mengajar mah tertunda misalkan tiga sampai lima hari, bisa kita cari waktu untuk memulihkannya. Tapi kalau kesehatan, kalau sudah terjadi, apa upaya pemerintah daerah tidak ada antisipasi bersama dengan DPRD? Saya kira itu,” katanya. (*)









