Pedagang Atribut Agustusan di Pamulang Keluhkan Penjualan Turun 50 Persen

Pedagang atribut agustusan menjajakan dagangannya di Jalan Siliwangi Pamulang. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

PAMULANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, deretan pedagang bendera dan atribut Agustusan mulai memenuhi sejumlah ruas jalan di Kota Tangsel.

Namun, suasana berbeda justru dirasakan para pedagang musiman yang mengaku penjualan tahun ini jauh lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Di sepanjang Jalan Siliwangi, Pamulang, belasan pedagang tampak menawarkan berbagai atribut merah putih, mulai dari bendera, umbul-umbul, hingga hiasan perayaan kemerdekaan. Meski begitu, pembeli yang datang masih didominasi pembelian dalam jumlah kecil.

Salah seorang pedagang, Hendra (38), mengaku sudah 11 tahun berjualan atribut Agustusan di lokasi tersebut. Tahun ini ia mulai membuka lapak sejak 29 Juli dan akan berjualan hingga 17 Agustus mendatang.

“Setiap tahun saya memang jualan di sini. Tahun ini mulai 29 Juli sampai 17 Agustus,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 5 Agustus 2026.

Pria asal Cirebon, Jawa Barat itu mengatakan, di luar musim Agustusan dirinya bekerja sebagai kuli bangunan dan terkadang berjualan secara keliling di kawasan Jakarta Timur. Ia merantau selama satu hingga tiga bulan sebelum kembali ke kampung halaman, tergantung hasil yang diperoleh.

Menurut Hendra, dirinya tetap memilih berjualan di Pamulang karena sudah merasa nyaman dan memiliki pelanggan tetap. Setiap hari ia membuka lapak mulai pukul 05.30 hingga 21.00 WIB.

Berbagai perlengkapan perayaan kemerdekaan dijualnya, seperti bendera dengan harga Rp25 ribu hingga Rp90 ribu, backdrop atau hiasan dinding Rp90 ribu sampai Rp160 ribu, hiasan sepeda Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. “Ikat kepala harganya Rp15 ribu, umbul-umbul Rp25 ribu hingga Rp55 ribu, serta bando merah putih seharga Rp10 ribu,” tambahnya.

Hendra mengungkapkan, dahulu umbul-umbul menjadi barang yang paling banyak dibeli. Dalam satu transaksi, pembeli bahkan bisa memesan hingga 60 sampai 100 lembar. Kini, pembelian dalam jumlah besar hampir tidak pernah terjadi.

“Dulu yang paling banyak dicari umbul-umbul. Sekarang paling beli satuan saja, baik bendera maupun backdrop. Banyak orang sekarang belinya lewat online,” tambahnya.

Hendrq menilai, maraknya penjualan melalui platform daring sejak 2022 membuat omzet pedagang kaki lima menurun drastis. Jika sebelumnya mampu meraih pendapatan kotor hingga Rp20 juta selama musim Agustusan, kini pendapatannya hanya sekitar Rp10 juta atau turun hingga 50 persen.

“Biasanya pendapatan kotor bisa sampai Rp20 juta selama sebulan. Tahun lalu hanya sekitar Rp10 juta,” ungkapnya.

Meski kondisi penjualan belum menggembirakan, Hendra tetap optimistis. Ia berharap ada instansi pemerintah maupun perusahaan yang membeli atribut dalam jumlah besar menjelang perayaan HUT RI.

Di balik pekerjaannya sebagai pedagang musiman, Hendra juga menyimpan pengalaman pahit. “Saat hujan deras disertai angin kencang, lapak saya pernah roboh sehingga dagangan basah dan kotor. Beruntung tidak sampai menimpa pengendara yang melintas,” tuturnya.

Ia juga pernah mengalami masa sulit ketika dagangan tidak laku sama sekali hingga terpaksa menggadaikan telepon genggamnya di warteg untuk membeli makan.

“Dulu pernah dagangan enggak laku, saya sampai gadai HP di warteg buat beli makan. Setelah dagangan laku baru saya tebus lagi,” tuturnya. (*)

 

 

 

Pos terkait