Mahasiswa UIN Banten Bekali Siswa Kenali Bahaya Bullying

Mahasiswa UIN Banten edukasi mengenai bahaya perundungan (bullying) kepada siswa SDN 1 dan SDN 2 Sukanegara, Kabupaten Lebak, Jumat 31 Juli 2026.

LEBAK, BANTENEKSPRES.CO.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Kelompok 23 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten memberikan edukasi mengenai bahaya perundungan (bullying) kepada siswa SDN 1 dan SDN 2 Sukanegara, Kabupaten Lebak, Jumat 31 Juli 2026. Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa agar mampu mengenali dan mencegah tindakan perundungan sejak usia dini.

Ketua Kukerta Kelompok 23, Gyas, mengatakan edukasi tersebut dilatarbelakangi masih banyaknya siswa yang menganggap ejekan maupun candaan secara fisik dan verbal sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, perilaku tersebut sudah termasuk dalam bentuk perundungan yang dapat berdampak pada kondisi psikologis korban.

Bacaan Lainnya

“Anak-anak masih sering menganggap bercandaan fisik dan verbal sebagai hal yang biasa. Padahal, itu sudah termasuk kategori bullying,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa Kukerta mengajak siswa memahami berbagai bentuk bullying, dampak yang ditimbulkan, serta cara menyikapi ketika menjadi korban maupun melihat temannya mengalami perundungan.

Gyas berharap edukasi itu tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk sikap saling menghargai sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

“Harapannya suasana sekolah menjadi lebih aman dan nyaman. Anak-anak bukan hanya paham, tetapi juga mau membantu temannya ketika mengalami bullying,” ujarnya.

Kepala SDN 1 Sukanegara, Agus Setiawan, mengapresiasi kegiatan yang digelar mahasiswa Kukerta UIN Banten tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai bahaya bullying sangat penting karena perundungan dapat memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan karakter anak.

“Sangat penting sekali, karena perundungan terkadang dapat menjatuhkan mental anak,” katanya.

Ia menjelaskan, tindakan bullying kerap berawal dari hal-hal sederhana seperti saling mengejek yang dianggap sebagai candaan. Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi perundungan yang berdampak buruk bagi korban.

“Kalau dibiarkan, setiap ada masalah kecil langsung saling mengejek. Hal seperti itu yang sebenarnya bisa merusak mental anak,” ujarnya.

Agus berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan agar pemahaman siswa mengenai bahaya bullying semakin meningkat dan kasus perundungan di lingkungan sekolah dapat diminimalkan.

“Terima kasih kepada mahasiswa Kukerta yang sudah memberikan edukasi ini. Semoga pengetahuan anak-anak tentang dampak buruk bullying semakin meningkat dan perundungan tidak terjadi lagi di sekolah,” pungkasnya. (*)

Pos terkait