PANDEGLANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang mencatat 686 hektar sawah telah terdampak akibat kemarau. Sementara itu, 590 hektar berhasil diselamatkan karena telah dipanen sebelum dampak kemarau meluas, dan sebanyak 515 hektar terancam apabila musim kemarau terus berlanjut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Kabupaten Pandeglang, Nuridawati mengatakan, kawasan selatan menjadi wilayah yang paling rentan karena mayoritas lahan pertaniannya merupakan sawah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
“Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung hingga September atau bahkan lebih lama dengan suhu yang jauh lebih panas. Wilayah selatan seperti Kecamatan Angsana terdampak cukup parah karena mengandalkan sawah tadah hujan, sedangkan wilayah utara relatif lebih terbantu karena memiliki sumber air dan kondisi geografis yang lebih mendukung,” kata Nuridawati, kepada wartawan, Minggu 26 Juli 2026.
Menurut dia, Kecamatan Munjul menjadi wilayah dengan luas lahan terdampak terbesar, yakni mencapai 420 hektar. Namun seluruh areal tersebut telah dipanen sehingga tidak lagi berisiko mengalami gagal panen. Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Angsana, di mana 170 hektar sawah telah dipanen sebelum kekeringan mencapai puncaknya.
“Jadi bagi wilayah tadah hujan saat ini sudah kering, dan belum dapat ditanami lagi,” ujarnya.
Menurutnya, ancaman kini bergeser ke sejumlah kecamatan lain yang masih memasuki masa tanam. Di Kecamatan Sindangresmi tercatat enam hektar sawah terdampak dan 200 hektar lainnya berstatus terancam. Kecamatan Picung mencatat lima hektar terdampak dan 80 hektar terancam, Patia 22 hektar terdampak dengan 90 hektar terancam, Sukaresmi 30 hektar terdampak dan 55 hektar terancam, Pagelaran 25 hektar terdampak serta 60 hektar terancam, Labuan tiga hektar terdampak dan 20 hektar terancam, Menes tiga hektar terdampak dengan 10 hektar terancam, sedangkan Cikeusik dan Cigeulis masing-masing mencatat satu hektar lahan terdampak.
“Besarnya luas lahan yang masih berada dalam kategori terancam menunjukkan tekanan terhadap produksi pangan di Pandeglang belum mereda. Apabila kemarau berlangsung hingga September sesuai prediksi, potensi penurunan hasil panen pada musim tanam berikutnya diperkirakan semakin besar, terutama di wilayah yang belum memiliki sistem irigasi memadai,” paparnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Pemerintah Kabupaten Pandeglang bersama Pemerintah Provinsi Banten mempercepat pelaksanaan program pompanisasi dan pipanisasi sebagai langkah darurat guna menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.
“Kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah maupun provinsi melalui program pompanisasi dan pipanisasi untuk membantu petani mengurangi kerugian. Upaya ini diharapkan mampu menyelamatkan lahan pertanian yang masih terancam kekeringan ekstrem,” ucapnya.(*)











