RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Menjadi seorang pemimpin wilayah sering kali diidentikkan dengan tumpukan berkas administratif di balik meja kerja yang nyaman.
Namun, bagi Umiyati, Lurah Sukatani, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, esensi dari memimpin adalah tentang hadir secara utuh di tengah-tengah warga, terutama saat mereka sedang didera musibah.
Baru-baru ini, sebuah pesan singkat di grup WhatsApp Kelurahan Sukatani memicu respons cepat dari sang Lurah.
Kabar mengenai kondisi kesehatan dua sosok penting di wilayahnya, Ketua RW 01 Irfan dan Ketua RW 04 Imam di Perumahan Pondok Sukatani Permai (PSP) yang tengah menurun, langsung menggerakkan hati Umiyati untuk turun ke lapangan.
Bagi Lurah Umiyati, Ketua RW bukan sekadar bawahan dalam hierarki pemerintahan, melainkan ujung tombak pelayanan masyarakat.
Begitu mendengar kabar sakitnya kedua Ketua RW tersebut, ia segera menginstruksikan jajarannya untuk melakukan kunjungan langsung.
Kunjungan pertama berlabuh di kediaman Ketua RW 01. Meski statusnya relatif baru menjabat, kinerjanya dalam roda pemerintahan dinilai sangat potensial.
Saat dijenguk, kondisinya pasca rawat inap di rumah sakit sudah mulai membaik dan tampak segar.
”Saya menitipkan pesan agar beliau belajar dari yang lama, seperti Pak Siswadi (Mantan RW 01). Apa yang baik diambil dan diteruskan agar hubungan Kelurahan dan ke-RW-an berjalan lancar demi pelayanan masyarakat,” ujar Umiyati memotivasi, Jumat, 12 Juni 2026.
Menariknya, karena Umiyati memiliki latar belakang (basic) di bidang kesehatan, obrolan santai pun mengalir seputar kronologi penyakit hingga bertukar saran medis sesuai keilmuan yang ia miliki.
Suasana berubah haru sekaligus mengejutkan saat rombongan tiba di rumah Ketua RW 04. Pria yang dikenal warga sebagai sosok kooperatif, berkinerja totalitas dan sangat dicintai warganya itu mengalami perubahan fisik yang drastis.
”Saya sempat agak syok melihat kondisi Pak RW 04 yang sekarang terlihat sangat kurus, padahal awalnya beliau cukup gemuk,” tuturnya.
Di sela-sela rasa prihatinnya, berbekal pengetahuan agamanya, Lurah Umiyati secara khusus merapalkan doa kesembuhan dalam bahasa Arab.
Doa yang dipanjatkan secara khusyuk itu seketika mengalirkan kehangatan, diamini dengan mata berkaca-kaca oleh sang Ketua RW, sang istri, serta seluruh jajaran kelurahan yang hadir.
Menanggapi stigma bahwa tugas seorang Lurah seharusnya fokus pada urusan administratif di dalam kantor, Umiyati memberikan pandangan yang bijaksana.
”Tidak bisa disalahkan anggapan bahwa administrasi itu di kantor, karena warga memang datang ke sana untuk pelayanan. Tapi, manakala terjadi sesuatu di lapangan, sudah menjadi kewajiban bagi Lurah dan aparat Kelurahan untuk menindaklanjuti. Itu adalah sebuah kewajiban, kita harus pimpin,” tegas Umiyati.
Aksi humanis ini nyatanya bukan sekadar pencitraan sesaat. Hal ini ditegaskan oleh Solikul Akmal, Kasi Trantibum Kelurahan Sukatani, yang kerap mendampingi sang Lurah di lapangan.
Menurut Akmal, kepedulian Bu Lurah telah menjadi kebiasaan lama yang melekat erat pada gaya kepemimpinannya.
Bu Lurah tidak hanya bergerak cepat saat mendengar ada pengurus RT atau RW yang sakit atau meninggal dunia, melainkan juga kepada warga biasa.
”Bukan cuma pengurus RT/RW, warga biasa pun beberapa kali saya saksikan sendiri beliau datang menjenguk. Beliau memandang bahwa seluruh warga di Kelurahan Sukatani harus diayomi oleh pimpinannya,” ungkap Akmal.
Melalui aksi nyata ini, Kelurahan Sukatani tidak hanya menunjukkan tata kelola birokrasi yang sigap, namun juga wajah pemerintahan yang penuh empati dan rasa kekeluargaan. (*)











