Kemacetan Underpass Bitung Picu Kerugian Industri, APINDO: Distribusi Bahan Baku dan Barang Jadi Terganggu

Pembangunan underpass Bitung di Kabupaten Tangerang mulai memunculkan dampak serius terhadap aktivitas ekonomi, khususnya bagi sektor industri dan pelaku usaha.

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pembangunan underpass Bitung di Kabupaten Tangerang mulai memunculkan dampak serius terhadap aktivitas ekonomi, khususnya bagi sektor industri dan pelaku usaha.

Kemacetan panjang yang terjadi hingga berjam-jam disebut mengganggu distribusi bahan baku maupun pengiriman barang jadi, sehingga menimbulkan kerugian bagi sejumlah perusahaan.

Bacaan Lainnya

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Tangerang, Herry Rumawatine mengatakan, kondisi lalu lintas yang tersendat di kawasan proyek telah memukul operasional industri, terutama yang bergantung pada kelancaran logistik.

“Ini mengganggu delivery bahan baku dan barang-barang jadi, yang mengakibatkan keterlambatan pengiriman barang dan jasa,” ujar Heri, Senin 27 April 2026.

Heri menuturkan, persoalan ini sebelumnya telah dibahas secara internal di kalangan pengusaha dan dipastikan menimbulkan kerugian, meski nominal pastinya belum dihitung secara rinci.

APINDO, kata dia, telah menyampaikan masukan kepada pihak terkait agar setiap pekerjaan perbaikan maupun pembangunan infrastruktur dapat dikoordinasikan dengan dunia usaha, agar tidak menghambat arus distribusi.

Ia menegaskan, koordinasi menjadi penting agar penerimaan bahan baku maupun distribusi barang jadi tidak terganggu, mengingat kelancaran logistik merupakan nadi utama aktivitas industri.

Meski belum ada hitungan resmi, Heri tidak menampik potensi kerugian yang ditanggung pelaku usaha bisa mencapai puluhan miliar rupiah dalam sebulan. “Bisa, karena ada beberapa pabrik yang mengalami kerugian,” katanya.

Dari sekitar 200 perusahaan yang tergabung dalam APINDO Kabupaten Tangerang, Heri menyebut tidak semuanya terdampak, namun sebagian perusahaan merasakan tekanan akibat tingginya biaya operasional yang muncul dari kemacetan berkepanjangan.

Kondisi ini turut memunculkan high cost economy bagi dunia usaha, mulai dari keterlambatan distribusi, tambahan biaya logistik, hingga potensi penurunan produktivitas. Meski demikian, dampak tersebut sejauh ini belum berimbas pada kenaikan harga produk di pasar.

“Belum sampai menaikkan harga, tapi yang pasti perusahaan mengalami kerugian,” ujarnya. (*)

Reporter: Dani mukarom

Pos terkait