LEGOK, BANTENEKSPRES.CO.ID – Banjir akibat luapan Sungai Cimanceuri masih merendam Kampung Sikluk, Desa Bojong Kamal, Kecamatan Legok. Hingga saat ini, sedikitnya 142 jiwa yang berada di RT 03 RW 01 terdampak, dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 sentimeter dan menggenangi puluhan rumah warga.
Genangan air yang belum surut membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Sejumlah warga terpaksa tetap bertahan di dalam rumah dengan kondisi seadanya sambil menunggu air surut. Perabot rumah tangga terlihat ditinggikan untuk menghindari kerusakan, sementara akses jalan lingkungan masih dipenuhi air berwarna keruh.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kecamatan Legok bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi banjir untuk memastikan kondisi warga terdampak. Camat Legok, M. Yusuf Fackhroji, bersama unsur pimpinan kecamatan melakukan peninjauan lapangan sekaligus berdialog dengan masyarakat guna mengetahui kebutuhan mendesak di wilayah tersebut.
“Kami hadir langsung untuk memastikan warga dalam kondisi aman dan mengetahui secara langsung situasi di lapangan. Pemerintah kecamatan ingin memastikan masyarakat tidak merasa sendiri menghadapi kondisi ini,” ujar Yusuf Fackhroji kepada Bantenekspres.co.id, saat meninjau lokasi banjir, Selasa 7 April 2026.
Menurutnya, hingga saat ini warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing karena ketinggian air dinilai belum memaksa untuk dilakukan pengungsian. Namun demikian, pemerintah kecamatan tetap menyiagakan langkah antisipasi apabila kondisi memburuk.
“Kami terus memantau perkembangan debit air. Jika kondisi meningkat, kami akan berkoordinasi untuk langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan evakuasi warga,” jelasnya.
Selain meninjau permukiman, Yusuf juga melakukan pengecekan langsung ke aliran Sungai Cimanceuri guna melihat kondisi arus dan potensi luapan susulan. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan banjir kembali terjadi saat hujan turun. Ia mengingatkan warga agar mulai mengantisipasi sejak dini dengan mengamankan barang-barang berharga serta kendaraan ke lokasi yang lebih tinggi.
“Kondisi cuaca sekarang sulit diprediksi. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera mengamankan barang penting apabila hujan turun dengan intensitas tinggi,” katanya.
Lebih lanjut, Yusuf juga meminta peran aktif perangkat lingkungan, khususnya Ketua RT dan RW, untuk terus menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah kecamatan. Menurutnya, koordinasi yang cepat menjadi kunci utama dalam penanganan situasi darurat di tingkat lingkungan.
“Saya minta RT dan RW terus melakukan komunikasi aktif. Jika ada kondisi darurat atau warga membutuhkan bantuan, segera laporkan agar pemerintah bisa bergerak cepat,” tegas Yusuf.
Sementara itu Muhammad Khodir salah satu warga berharap adanya penanganan jangka panjang terhadap Sungai Cimanceuri agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan. Normalisasi sungai dan peningkatan sistem drainase dinilai menjadi solusi penting untuk mengurangi risiko banjir di wilayah tersebut.
“Semoga ada solusinya, agar kedepan tidak ada lagi banjir. Kita selalu tergenang air saat sungai Cimanceuri meluap kalau hanya hujan bisa tidak banjir tapi kita kena imbasan luapan sungai Cimanceuri,”tutupnya. (*)











