Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan cukup memberatkan, sehingga ia memilih opsi lain yang lebih terjangkau. “Pendapatannya lagi menurun juga, terus anak saya juga yang kedua kan ada yang mau lanjut SMP juga,anaknya cuma bukan cuma satu tapi tiga,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, biaya sekolah di tempat itu mencapai Rp770.000 per bulan, meskipun sudah termasuk makan dan layanan laundry. Namun, bagi keluarganya, nominal tersebut tetap terasa berat, terlebih dengan kebutuhan sehari-hari lainnya yang harus dipenuhi.
Ida menilai, kesulitan yang dialami para orang tua murid dalam mengambil SKL bukan semata-mata karena persoalan administrasi, melainkan karena adanya keinginan dari pihak pondok pesantren agar para siswa tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTA di yayasan tersebut. Situasi ini semakin menyulitkan, mengingat pendaftaran jalur SPMB SLTA di sekolah lain sudah memasuki hari terakhir.











