Dalam 100 hari pertama, ia menyoroti lemahnya kinerja awal Budi–Agis, salah satunya terlihat dari capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Serang yang baru mencapai 15,42% hingga Mei 2025.
Tanpa perencanaan fiskal yang matang dan langkah-langkah struktural untuk meningkatkan penerimaan daerah, target tersebut berpotensi menjadi sekadar wacana.
“Kalo kita lihat target PAD sebesar Rp600 miliar pada 2026 itu tidak realistis tanpa peta jalan fiskal yang jelas dan terukur,” ujarnya.
Kemudian ia juga menyoroti, lambatnya implementasi program-program unggulan Budi–Agis, seperti Serang Sehat dan Serang Digital, yang menurutnya belum memberikan progres yang nyata, meskipun Menurutnya, program BPJS untuk warga miskin telah diumumkan, implementasinya di lapangan masih belum jelas.
“Aplikasi layanan publik seperti Ragem hanya melanjutkan program dari pemerintahan sebelumnya tanpa adanya peningkatan signifikan dalam efektivitas maupun jangkauan pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya.











