SMP PGRI 2 Ciledug Gelar ASTS Gunakan Gawai

Siswa SMP PGRI 2 Ciledug, Kota Tangerang, tengah melaksanakan Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) Ganjil Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menggunakan gawai, Selasa 22 September 2026.

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – SMP PGRI 2 Ciledug, Kota Tangerang, melaksanakan Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) Ganjil Tahun Ajaran 2026/2027 dengan memanfaatkan perangkat digital. Para siswa mengerjakan ujian menggunakan gawai, seperti laptop, tablet, maupun handphone.

Guru Pendamping Sains dan Teknologi SMP PGRI 2 Ciledug, Encep Abdussalam, mengatakan, pelaksanaan ujian berbasis perangkat digital tersebut bukan hal baru bagi sekolah. Sistem Quantum Computer Based Test (QCBT) telah digunakan sejak 2017.

Bacaan Lainnya

“Iya, siswa bisa menggunakan device laptop, tablet atau HP. Kita memang pakai perangkat aplikasi Quantum Computer Based Test (QCBT) sejak 2017 lalu, jauh sebelum pandemi COVID-19,” kata Encep saat ditemui, Selasa, 22 September 2026.

Menurut dia, pelaksanaan ASTS disesuaikan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengatur kegiatan pembelajaran secara otonom, termasuk pelaksanaan asesmen.

Dikatakannya, guru di masing-masing mata pelajaran menyusun soal berdasarkan capaian pembelajaran (CP) yang telah ditentukan. Dalam penyusunan soal dilakukan bersama melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) di sekolah, sebelum soal dimasukkan ke dalam sistem QCBT.

“Guru-guru membuat soal sendiri berdasarkan capaian pembelajaran yang sudah ditentukan oleh kementerian. Soal dibuat bersama MGMP di sekolah sesuai dengan ketentuan pembuatan soal. Kemudian soal-soal yang sudah dibuat, diimpor ke dalam sistem QCBT,” jelasnya.

Encep menyebut penggunaan QCBT memberikan kemudahan bagi siswa maupun guru. Menurutnya, siswa tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengisi data identitas karena data akan muncul secara otomatis setelah siswa memasukkan username dan password.

Dalam aplikasi tersebut, masing-masing mata pelajaran juga tersedia setelah dilakukan penyesuaian dengan jadwal ujian.

“Jadi dengan menggunakan aplikasi QCBT ini lebih simpel dan tidak memakan waktu untuk mengisi data-data siswa. Karena sudah otomatis ketika siswa memasukkan username dan password,” ujar Encep.

“Data siswa pun otomatis keluar sendiri, termasuk masing-masing pelajaran sesuai dengan jadwal pelajarannya,” sambungnya.

Sementara bagi guru, sistem digital tersebut sangat membantu proses pemeriksaan hasil ujian. Setelah siswa menyelesaikan dan mengirimkan jawaban, nilai serta hasil analisis dapat langsung diunduh.

“Nah, setelah siswa mengirimkan semua jawaban soal otomatis nilai dan semua analisis sudah bisa langsung di-download, tanpa lama mengoreksi secara manual,” bebernya.

Meski menggunakan sistem berbasis digital, kata Encep, kendala dalam pelaksanaan ujian relatif minim. Gangguan yang mungkin terjadi umumnya berasal dari faktor eksternal, seperti koneksi internet atau jangan arus listrik.

Untuk mengantisipasi gangguan internet, siswa dapat menggunakan jaringan internet alternatif melalui data seluler atau tethering.

“Kalau terkait dengan jaringan internet bisa menggunakan data sendiri atau tethering dengan yang lain,” pungkasnya.(*)

 

 

Pos terkait