TIGARAKSA,BANTENEKSPRES.CO.ID — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Sebaran abu vulkanik bahkan telah mencapai sejumlah wilayah di Banten sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap dampaknya bagi kesehatan.
Paparan abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan. Partikel abu yang berukuran sangat halus dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan apabila masyarakat tidak menggunakan perlindungan yang memadai.
Dokter Spesialis Paru RSUD Tigaraksa, dr. Muhamad Iman Nugraha, Sp.P mengatakan, masyarakat perlu memahami bahwa abu vulkanik berbeda dengan debu biasa.
“Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya sangat halus dan apabila terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan,” ujar dr. Muhamad Iman Nugraha kepada Bantenekspres.co.id, Jumat 11 September 2026
Menurutnya, iritasi akibat paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah keluhan kesehatan, mulai dari batuk, pilek, iritasi tenggorokan hingga sesak napas.
“Keluhan yang muncul bisa berbeda-beda pada setiap orang. Namun, yang perlu diperhatikan adalah munculnya batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, pilek, atau sesak napas setelah seseorang terpapar abu vulkanik,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ringan keluhan pernapasan yang muncul setelah berada di wilayah yang terdampak sebaran abu.
“Kalau setelah terpapar kemudian muncul keluhan pada pernapasan, jangan diabaikan. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh dan segera mendapatkan pemeriksaan apabila keluhan dirasakan semakin berat,” jelasnya.
Kewaspadaan, lanjutnya, perlu ditingkatkan bagi masyarakat yang sebelumnya telah memiliki penyakit paru. Paparan abu vulkanik dapat memperburuk kondisi penderita asma, bronkitis maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
“Bagi masyarakat yang memang sudah memiliki penyakit paru, seperti asma, bronkitis atau PPOK, tentu harus lebih berhati-hati. Paparan partikel abu dapat memicu atau memperburuk keluhan yang sebelumnya sudah ada,” ungkapnya.
Selain penderita penyakit paru, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan ibu hamil juga perlu mendapatkan perhatian lebih.
“Kelompok rentan harus menjadi perhatian. Anak-anak dan lansia, khususnya yang mempunyai gangguan pernapasan, sebaiknya tidak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar ketika kondisi udara sedang dipenuhi abu,” tuturnya.
Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika konsentrasi abu vulkanik meningkat.
“Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Ini merupakan salah satu langkah sederhana untuk mengurangi jumlah abu yang terhirup,” kata Iman.
Saat berada di dalam rumah, masyarakat juga disarankan menutup pintu dan jendela agar abu vulkanik tidak mudah masuk ke dalam ruangan.
“Pastikan pintu dan jendela tertutup ketika kondisi di luar banyak abu. Tujuannya untuk mengurangi masuknya partikel abu ke dalam rumah sehingga udara di dalam ruangan tetap lebih terlindungi,” jelasnya.
Sementara apabila harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker yang dapat menutup hidung dan mulut dengan baik.
“Jika memang harus keluar, gunakan masker medis atau masker N95. Yang paling penting masker terpasang dengan baik dan menutup hidung serta mulut,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan diri setelah kembali dari luar ruangan.
“Setelah beraktivitas di luar, segera cuci tangan dan wajah serta bersihkan diri. Jangan langsung menyentuh wajah sebelum tangan dalam kondisi bersih,” katanya.
Selain perlindungan dari luar, masyarakat juga dianjurkan menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan.
“Perbanyak minum air putih. Ini dapat membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan dan menjaga kondisi tubuh tetap baik,” tutur Iman.
Bagi masyarakat yang memiliki penyakit paru dan sedang menjalani pengobatan rutin, ia menegaskan agar obat tetap dikonsumsi sesuai anjuran dokter.
“Pasien dengan penyakit paru yang memiliki obat rutin tetap harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Jangan menghentikan pengobatan sendiri hanya karena merasa kondisi sudah membaik,” tegasnya.
“Kalau ada perubahan kondisi atau keluhan yang semakin berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai,” tambahnya.
Dalam menghadapi kemungkinan munculnya gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, RSUD Tigaraksa juga siap memberikan pelayanan kepada masyarakat.
RSUD Tigaraksa memiliki Poliklinik Paru untuk pemeriksaan dan penanganan gangguan pernapasan, layanan rawat inap bagi pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut, serta Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang melayani masyarakat selama 24 jam.
“Masyarakat tidak perlu ragu untuk mendapatkan pertolongan apabila mengalami keluhan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik. Apalagi jika keluhannya semakin berat atau mengganggu aktivitas,” kata Iman.
“Yang terpenting adalah jangan menunggu kondisi menjadi lebih berat. Bila ada keluhan yang mengkhawatirkan, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” sambungnya.
Untuk layanan Poliklinik Paru RSUD Tigaraksa, dr. Muhamad Iman Nugraha, Sp.P melayani pasien pada Senin, Selasa dan Rabu pukul 08.00 hingga 13.00 WIB. Sementara pendaftaran poliklinik dibuka mulai pukul 07.30 hingga 12.00 WIB.
“Dengan adanya layanan Poliklinik Paru, masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan terkait gangguan pernapasan dapat memanfaatkan layanan yang tersedia di RSUD Tigaraksa,” ujarnya.
Untuk informasi lebih lengkap mengenai layanan dan fasilitas, masyarakat dapat menghubungi Call Center RSUD Tigaraksa di nomor 0852-1361-7014. Informasi juga tersedia melalui Instagram resmi RSUD Tigaraksa (@rsud.tigaraksa) serta website rsudtigaraksa.tangerangkab.go.id.
Dengan tata nilai “TERBAIK”, RSUD Tigaraksa terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan terbaik sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Tangerang. (ADV)
IMBUAN : Dokter Spesialis Paru RSUD Tigaraksa, dr. Muhamad Iman Nugraha, Sp.P mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terkait paparan abu vulkanik gunung anak Krakatau. Foto dok RSUD Tigaraksa for Bantenekspres.co.id











