Setwan DPRD Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Meneladani Rasulullah Dengan Budaya Kerja Disiplin

Penceramah Ustaz Mochamad Miftahul Hilmy, Lc memberikan tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Setwan DPRD Kota Tangsel, Rabu, 9 September 2026.

SETU, BANTENEKSPRES.CO.ID – Meneladani Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperingati Maulid Nabi SAW atau mengikuti pengajian. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah diharapkan benar-benar hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk ketika menjalankan tugas dan tanggung jawab di tempat kerja.

Pesan tersebut mengemuka dalam pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pengajian bulanan yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Amanah pada pekan kedua, Rabu, 9 September 2026. Mengusung tema “Meneladani Rasulullah dalam Mewujudkan Budaya Kerja yang Disiplin, Profesional dan Berintegritas”, kegiatan tersebut menjadi momentum pembinaan mental dan spiritual bagi para pegawai.

Bacaan Lainnya

Ustaz Mochamad Miftahul Hilmy, Lc., yang hadir sebagai penceramah, mengajak peserta untuk menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai cermin dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Keteladanan Nabi, menurutnya, memiliki nilai yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Sekretaris DPRD (Sekwan) Abdul Aziz mengatakan, Rasulullah SAW merupakan sosok yang sepanjang hidupnya memikirkan umat. Bahkan hingga akhir hayat, perhatian Rasulullah tidak berhenti pada kepentingan dirinya sendiri, keluarga ataupun harta, tetapi tertuju kepada umat.

“Rasulullah sampai akhir hayatnya memikirkan umatnya. Beliau tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, keluarga maupun hartanya, tetapi memikirkan kita semua,” ujarnya.

Karena itu, Abdul Aziz mengajak para pegawai untuk tidak berhenti pada kecintaan secara lisan kepada Rasulullah. Kecintaan tersebut harus diwujudkan dengan mencontoh akhlak dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melaksanakan pekerjaan.

Ia berharap pengajian tersebut mampu menjadi pengingat sekaligus energi positif bagi para pegawai untuk meningkatkan kualitas kinerja.

“Insya Allah siapa pun yang mau mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW, kelak akan bersama Rasulullah. Mudah-mudahan momentum ini semakin menumbuhkan kecintaan kita kepada Rasulullah dan membuat kita selalu berkaca kepada beliau dalam menjalankan tugas,” katanya.

Menurutnya, profesionalisme dan integritas tidak semata-mata dibangun melalui aturan. Keduanya juga membutuhkan fondasi moral yang kuat. Karena itu, pembinaan mental dan spiritual menjadi penting untuk membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Bukan Sekadar Pengajian

Sementara itu, Ketua DKM Baitul Amanah Syahrul Anwar mengatakan, kegiatan keagamaan di lingkungan kerja memang dikemas secara sederhana, tetapi diupayakan berlangsung secara konsisten dan melibatkan pegawai dari berbagai bagian.

Selain pengajian bulanan, DKM Baitul Amanah juga rutin menggelar kegiatan peringatan hari besar Islam (PHBI), seperti Maulid Nabi, Isra Mikraj dan Tahun Baru Islam atau Muharam.

“Konsepnya sederhana. Staf dari semua bagian ikut terlibat. Ada pembinaan mental, infak dan sedekah dari semua pegawai,” kata Syahrul.

Khusus momentum Muharam, kegiatan keagamaan juga diisi dengan aksi sosial berupa pemberian santunan. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya membangun semangat berbagi di lingkungan kerja.

Sekretaris DKM Baitul Amanah, Rizal, menambahkan pengajian bulanan menjadi salah satu agenda rutin yang dilaksanakan pada pekan kedua setiap bulan. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antpegawai.

Pesan yang dibawa pun sederhana, namun memiliki makna besar: keteladanan Rasulullah harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Disiplin dalam bekerja, profesional dalam menjalankan tugas, jujur dalam mengambil keputusan dan berintegritas dalam memberikan pelayanan merupakan bagian dari nilai-nilai yang diharapkan tumbuh dari pembinaan tersebut.

Dengan demikian, masjid di lingkungan kerja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk membangun karakter dan memperkuat moral para pegawai. Dari tempat sederhana itu, diharapkan lahir budaya kerja yang semakin baik dan berorientasi pada pelayanan. (*)

Pos terkait