Perjalanan Inspiratif Atikah Puspitasari di Dunia Pendidikan, Mengabdi dengan Hati, Merangkul dengan Seni

Koordinator Wilayah Kecamatan Jatiuwung jenjang SD. Atikah Puspitasari.

 

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID — Di balik dinamika dunia pendidikan modern yang penuh tantangan, sosok pemimpin yang berjiwa seni, sabar, dan komunikatif menjadi kunci utama dalam merajut sinergi antara sekolah dan masyarakat. Nilai inilah yang tercermin kuat dalam diri Atikah Puspitasari, selaku Koordinator Wilayah (Korwil) Jatiuwung jenjang Sekolah Dasar (SD) di Kota Tangerang.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, dunia pendidikan tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, melainkan ruang kolaborasi yang hangat antara guru, murid, dan orang tua.

Perjalanan pengabdian Atikah di dunia pendidikan tidak instan. Lahir dari atmosfer dari lingkungannya yang didominasi profesi sebagai pendidik di kawasan Bayah, Rangkasbitung, Lebak, Banten, di mana hampir setiap rumah di lingkungannya melahirkan seorang guru. Ia seolah ditakdirkan untuk mendedikasikan hidupnya bagi dunia literasi dan pengajaran.

Meski awalnya sempat diarahkan sang ayah untuk masuk ke bidang kesehatan, panggilan jiwa membawanya menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan lulus pada tahun 1988. Bekal pendidikan khusus keguruan inilah yang membentuk fondasi kuat dalam memahami psikologi anak secara mendalam, termasuk cara menangani siswa tantrum hingga merangkul psikologi orang dewasa.

“Padahal Ayah saya tenaga kesehatan, dan saya diminta untuk di bidang kesehatan juga, tapi karena rata-rata di lingkungan saya pada jadi guru, akhirnya saya pingin guru juga,” selorohnya.

Langkahnya di dunia pendidikan yang diembannya, pengabdian dimulai dengan mengajar di taman kanak-kanak di wilayah Tangerang milik Menteri penerangan, Harmoko di era Presiden Soeharto, sebelum akhirnya resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1991.

Kala itu, meski telah menyandang status PNS, Atikah tak hanya bergelut di sekolah dasar, Atikah juga sempat meluangkan waktu menjadi guru kesenian dan memegang ekstrakurikuler tari di salah satu SMK d Tangerang. Jiwa seninya yang tinggi bahkan tecermin dalam aktivitas di luar dinasnya, di mana hingga saat ini ia aktif mengelola sanggar seni dan memegang peran sebagai Master of Ceremony (MC) pada momentum berbagai acara.

“Saya punya Sangar Tari, Wedding Organitation (WO), Alhamdulillah usaha itu sampai sekarang terus berjalan,” kata Atikah.

Sepanjang kariernya di dunia pendidikan, mulai dari mengajar di pelosok, bertugas sebagai pengawas di Korwil Cibodas, hingga kini memimpin Korwil Jatiuwung, Atikah telah menghadapi berbagai macam karakter manusia dan dinamika persoalan orang tua murid. Baginya, setiap masalah adalah pelajaran berharga untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa.

“Pendidikan itu siapapun pemimpinnya, kalau yang lainnya ikut berpartisipasi, Insya Allah dalam menunjang prestasi anak-anak bisa kita capai. Intinya kolaborasi semua pihak, terutama dengan orang tua murid, karena kesuksesan itu bukan cuma pimpinan. Intinya ketika kita mau maju itu harus bersama-sama.” paparnya.

Di bawah kepemimpinannya, Korwil Jatiuwung mencatat prestasi gemilang dengan capaian rapor pendidikan tertinggi di Kota Tangerang, khususnya pada indikator kepemimpinan individual dan tingkat kepercayaan orang tua. Capaian ini bukan tanpa sebab. Atikah dikenal sebagai pemimpin yang proaktif merangkul orang tua murid, alih-alih menjauhkan mereka yang kerap kritis atau vokal. Langkah nyata ini dibuktikannya melalui berbagai inovasi, salah satunya kegiatan Deklarasi Anti-Bullying dengan menggandeng Yayasan Putri Indonesia untuk mengedukasi orang tua dan anak tentang pencegahan perundungan, di mana Jatiuwung tercatat sebagai pelopor pertama se-Kota Tangerang yang mengadakan kegiatan tersebut.

Selain itu, ia juga mewajibkan setiap sekolah di bawah koordinasinya untuk rutin mengadakan sesi parenting guna menyamakan frekuensi dan mendengarkan aspirasi orang tua.

“Yang terpenting dari pihak sekolah yaitu pelibatan komite dan orang tua sejak awal tahun ajaran baru untuk memaparkan dan “menjual” program sekolah, sehingga orang merasa dihargai dan memiliki rasa kepemilikan yang tinggi,” ujarnya.

Sebagai seorang istri dari seorang TNI yang memiliki 4 anak ini, ia mampu membuktikan bahwa profesionalisme dan keharmonisan keluarga dapat berjalan selaras. Kesibukan di luar dinas yang ia miliki tidak pernah mengaburkan prioritas utamanya terhadap pelayanan publik di dunia pendidikan.

Bagi Atikah, sebuah kesuksesan institusi pendidikan tidak bisa dicapai secara sepihak. Sinergi antara kepala sekolah, guru, komite, dan orang tua adalah harga mati. Ia berharap apa yang telah dirintis dan diperjuangkan di Jatiuwung dapat terus berlanjut dan terjaga kualitasnya, siapapun estafet kepemimpinan yang memegangnya kelak.
Melalui ketulusan, ketegasan yang humanis, serta sentuhan seni dalam memimpin, wanita kelahiran Lebak, 7 Januari 1970, yang sebentar lagi memasuki masa purnabakti, telah membuktikan bahwa pendidikan yang bermutu lahir dari hati yang mau mendengarkan dan tangan yang terbuka untuk merangkul bersama.

‘Insya Allah saya akan terus berperan di dunia pendidikan, terutama di bidang seni melalui sanggar seni,” pungkasnya.(*)

 

Pos terkait