Dua Warga Terkena ISPA, Seluruh Layanan Kesehatan Diminta Siaga 24 Jam

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat, berdasarkan laporan rujukan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dampak abu vulkanik, terdapat dua warga asal Kabupaten Serang yang dilarikan ke rumah sakit di daerah Kota Serang.

Dengan adanya kasus tersebut, Pemprov Bante menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) di wilayahnya guna mengantisipasi gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Bacaan Lainnya

Langkah kesiapsiagaan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026. Edaran ini menginstruksikan seluruh rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas), balai kekarantinaan, hingga pos kesehatan agar mengaktifkan layanan siaga 24 jam sesuai dengan tingkat risiko dan rencana kontingensi daerah.

Kepala Dinkes Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan bahwa instruksi kesiapsiagaan tidak hanya menyasar delapan kabupaten/kota di Banten, tetapi juga berkoordinasi lintas wilayah yang terdampak seperti Lampung, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.

“Sejak kemarin malam, seluruh puskesmas kami minta siaga 24 jam. Tim gerak cepat juga diarahkan menghadapi potensi krisis kesehatan, khususnya apabila ada lonjakan kasus ISPA,” katanya, Senin 7 September 2026.

Meski terdapat kasus, Dinkes memastikan kondisi layanan di tingkat puskesmas sejauh ini belum mengalami kenaikan kasus yang signifikan.

“Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus,” ujarnya.

Maka dari itu, Ati mengimbau seluruh masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa keluar rumah, masyarakat diwajibkan menggunakan masker.

Ia juga memastikan ketersediaan masker di Dinkes Banten, dan akan didistribusikan kepada warga terdampak. Selain itu, Pusat Krisis (Crisis Center) Kementerian Kesehatan juga akan segera menyalurkan bantuan masker ke sejumlah daerah terdampak, meliputi Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

“Masker alhamdulillah, kebetulan provinsi sendiri punya stok sekitar 5.000 dus saat ini. Satu dusnya itu ada sekitar 50 isinya, berarti kita cukup untuk dalam beberapa hari ini,” terangnya.

Lebih lanjut, Ati menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung partikel kasar hingga sangat halus serta gas yang bersifat iritan. Kondisi ini dapat memicu iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

“Dampak lainnya meliputi gangguan mata, iritasi kulit, hingga kontaminasi sumber air dan pangan yang tidak tertutup rapat. Selain itu, ada risiko kecelakaan lalu lintas akibat berkurangnya jarak pandang dan jalanan yang licin,” jelasnya.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Dinkes Banten mewajibkan seluruh faskes menjamin ketersediaan logistik dan obat-obatan esensial. Persiapan mencakup sistem rujukan, ambulans, tabung oksigen, pulse oximeter, obat bronkodilator, inhaler beserta spacer, cairan pembilas mata steril, hingga Alat Pelindung Diri (APD) dan respirator partikulat (N95, KN95, KF94) bagi petugas.

Nakes di lapangan juga ditugaskan untuk melakukan surveilans (pemantauan) harian terhadap peningkatan kasus gangguan pernapasan. Pemantauan aktif diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penderita penyakit kronis. Data ini kemudian dianalisis dan dikoordinasikan dengan BMKG, BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup terkait kualitas udara (PM2,5 dan PM10), lalu dilaporkan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Sebagai langkah preventif di lingkungan rumah, Ati meminta masyarakat untuk menutup rapat pintu, jendela, serta celah masuknya abu, termasuk menutup tempat penampungan air dan makanan.

“Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering. Selain itu, pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah,” paparnya. (*)

 

Pos terkait