Perkim Kabupaten Tangerang Wacanakan Bangun Sumur Air Bersih Komunal

Warga Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, mengantre bantuan air bersih

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Perumahan, Permukiman dan Pemakaman (Perkim) Kabupaten Tangerang, mulai menyiapkan pembangunan sarana air bersih (SAB) komunal sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.

Kepala Dinas Perkim Kabupaten Tangerang, Bambang Saptho Nurtjahja, mengatakan penentuan lokasi pembangunan sumur air bersih tidak dilakukan secara sembarangan. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi Banten untuk melakukan uji geolistrik guna memastikan titik yang memiliki potensi sumber air terbaik.

Bacaan Lainnya

“Kita lihat dulu mana yang memang membutuhkan. Titiknya nanti kita koordinasikan dengan Dinas Perkim Provinsi, karena pengujian geolistrik juga akan dilakukan oleh mereka. Jadi penentuan lokasinya sesuai arahan dari provinsi,” ujar Bambang kepada Banten Ekspres, Rabu 29 Juli 2026.

Ia mengatakan, fasilitas yang akan dibangun berupa Sarana Air Bersih (SAB) berbentuk sumur air bersih yang dapat dimanfaatkan secara komunal oleh masyarakat.

Nantinya, pengelolaan fasilitas tersebut akan diserahkan kepada lingkungan atau warga setempat agar keberlanjutannya tetap terjaga.

“Yang dibangun itu SAB, sumur air bersih seperti yang biasa kita bangun. Sifatnya komunal dan nanti dikelola oleh lingkungan,” katanya.

Bambang menjelaskan, satu titik sumur komunal diproyeksikan mampu melayani sekitar 20 hingga 30 rumah. Namun kapasitas tersebut masih akan disesuaikan dengan hasil survei geolistrik dan besarnya debit air yang ditemukan di lokasi.

“Biasanya bisa melayani sekitar 20 sampai 30 rumah. Tapi nanti kita lihat dulu hasil geolistriknya, bagaimana debit airnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, jumlah titik pembangunan sumur air bersih juga masih menunggu hasil pemetaan dari tim provinsi. Pengujian geolistrik dinilai penting karena sumur dengan kedalaman standar kerap mengalami penurunan debit saat musim kemarau.

“Berapa titiknya nanti mengikuti hasil arahan dari Perkim Provinsi setelah tes geolistrik. Kalau hanya menggunakan standar biasa, saat musim kemarau debit airnya umumnya melemah,” kata Bambang.

Lebih lanjut, Bambang menegaskan bahwa yang menjadi perhatian utama bukan besarnya debit air pada awal pengeboran, melainkan keberlanjutan pasokan air selama musim kemarau berlangsung.

“Yang terpenting bukan berapa liter air yang keluar, tetapi debitnya tetap stabil dan masih bisa mengalir saat musim kemarau. Itu yang menjadi target,” katanya. (*)

Reporter: Dani mukarom

Pos terkait