PASARKEMIS,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah impitan harga bahan baku yang kian melambung, sesosok pria setengah abad dengan tenang meremas ragi dan kedelai di sudut hunian sederhananya.
Dialah Guruh Purwanto (50), warga Perumahan Taman Buah 1, RW 14, Kelurahan Kutabumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.
Pria kelahiran Jember, Jawa Timur dan ayah dari dua anak ini adalah potret nyata keuletan perajin tempe lokal yang terus bertahan menghidupi keluarga di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi.
Perjalanan Guruh merajut asa lewat tempe tidak diraih secara instan.
Jauh sebelum menggeluti usaha ini pada 2009, ia merupakan seorang karyawan di sebuah pabrik pembuat piring dan gelas.
Kehidupan buruh yang serba pas-pasan kian dihimpit kenyataan pahit, gaji yang kerap terlambat dibayarkan, hingga puncaknya dirumahkan tanpa kepastian selama dua bulan.
“Waktu itu pabrik meliburkan sampai dua bulan. Kalau hanya menunggu, dapur tidak bisa ngebul,” kenang Guruh saat diwawancarai disela kesibukannya, Rabu, 29 Juli 2026.
Tak mau meratapi nasib, Guruh melangkah ke Kampung Kebon Kelapa, Pasar Kemis.
Di sana, ia menimba ilmu dari sang kakak yang sudah lebih dulu menjadi produsen tempe.
Cukup tiga hari belajar kilat, Guruh memberanikan diri terjun langsung ke lapangan.
Langkah pertamanya dimulai dengan membawa 20 kilogram tempe buatan kakaknya, terbagi dalam 12 lonjor tempe berukuran panjang 1,5 meter, lebar 7 centimeter dan tinggi 3,5 centimeter.
Dengan patokan harga Rp30.000 per lonjor, ia menyusuri jalanan menjajakan barang dagangan. Dari sanalah, naluri kewirausahaannya lahir.
Setiap pengusaha punya kenangan tentang masa keemasan, begitu pula Guruh. Momen kejayaannya terukir saat ia berjualan di Pasar Lurah Ebrek (wilayah mantan Kepala Desa Sukamantri).
Hanya berdagang dari selepas Ashar hingga pukul 20.00 WIB, tempe buatan Guruh selalu ludes diserbu pembeli, omzet harian menjangkau Rp800 ribu per hari.
Namun, roda kehidupan berputar. Sepeninggal sang Lurah Ebrek, kawasan pasar tersebut diambil alih dan ditutup oleh pihak swasta. Guruh pun harus memutar otak dan menata ulang strategi penjualannya.
Kini, Guruh memproduksi sekitar 15 hingga 20 kg kedelai per hari. Pemasarannya berfokus pada jualan di depan kompleks perumahannya sendiri serta menitipkan tempe ke warung-warung sayur sekitar. Jika ada pesanan khusus, kapasitas produksi maksimalnya berada di angka 50 kilogram per hari.
Namun, tantangan terbesarnya saat ini bukan lagi soal lapak, melainkan lonjakan harga bahan baku.
Saat ini, kedelai Rp11 ribu per kilogram, harga harapan Guruh Rp6 ribu per kilogram. Plastik PP (ukuran 50×75 centimeter, isi 40 lembar) Rp50 ribu per kilogram.
“Harapan kami sebagai perajin kecil tidak banyak. Semoga harga kedelai bisa turun lagi ke Rp6.000 per kilo, dan harga plastik pengemas juga disesuaikan. Itu sangat membantu menyambung napas usaha kami,” tutur Guruh penuh harap.
Bagi Guruh, keputusasaan adalah pantangan. Guna menutupi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya kedua anaknya yang tidak bisa ditunda, ia merambah berbagai peluang usaha sampingan.
Akhir pekan, Guruh jualan nasi goreng kawasan Pondok Ponpes Al Istiqlaliyyah Cilongok dan menjadi penjual golok dadakan saat memasuki musim Qurban (Idul Adha).
Semangat pantang menyerah Guruh Purwanto menjadi simbol ketahanan UMKM Indonesia.
Di balik sepotong tempe gurih yang tersaji di meja makan kita, ada keringat, kerja keras dan tekad baja seorang ayah yang tak pernah lelah memperjuangkan masa depan keluarganya. (*)
Reporter: Zakky Adnan








