222 KK di Kota Tangsel Terdampak Kekeringan, Terbanyak di Keranggan Setu

Petugas BPBD Kota Tangsel mendistribusikan air bersih kepada masyarakat di Kecamatan Setu yang berdampak kekeringan. BPBD Kota Tangsel For Bantenekspres.co.id

SETU, BANTENEKSPRES.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mencatat sebanyak 10 titik di dua kecamatan terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Sebanyak 222 kepala keluarga (KK) terdampak dan hingga kini masih membutuhkan pasokan air bersih.

Penata Layanan Operasional Danton BPBD Kota Tangsel Dian Wiryawan mengatakan, dari total 10 titik tersebut, 9 berada di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu dan satu titik lainnya berada di RT 06/04 Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, tidak jauh dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.

Bacaan Lainnya

“Jumlah titik terdampak kekeringan ada 10 titik. Sembilan titik berada di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu dan satu titik di Kelurahan Serpong. Total ada 222 kepala keluarga yang terdampak,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Selasa, 28 Juli 2026.

Dian menambahkan, sembilan titik di Kelurahan Keranggan tersebar di RT 02/01, RT 04/02, RT 01/02, RT 13/05, RT 03/01, RT 06/02, RT 12/05, RT 05/02, dan RT 09/05.

Menurutnya, kekeringan di wilayah tersebut dipengaruhi kontur dan jenis tanah serta letaknya yang lebih tinggi dibanding aliran kali maupun sungai sehingga warga kesulitan mendapatkan sumber air.

“Di lokasi tersebut pernah dibangun sumur bor sekitar tahun 2024, namun airnya tidak keluar. Berdasarkan kajian BRIN, solusi jangka panjang yang memungkinkan adalah pipanisasi dari Perseroda PITS atau PDAM, meski membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar,” tambahnya.

Selain pipanisasi, Pemkot Tangsel juga telah mengajukan izin kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk pembangunan sumur satelit berkedalaman hingga sekitar 100 meter.

“Untuk pengeboran di atas kedalaman 60 meter harus mendapatkan izin dari Kementerian ESDM. Nantinya sumur satelit bisa mencapai kedalaman sekitar 100 meter, sedangkan sumur yang sebelumnya dibangun hanya sekitar 40 meter,” jelasnya.

Dian mengungkapkan, kekeringan mulai dirasakan warga sejak 7 Juli 2026. Sehari kemudian, BPBD langsung mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.

Dalam penyaluran air bersih, BPBD menggandeng berbagai pihak melalui bantuan CSR maupun dukungan instansi, seperti Sinarmas, Balai Besar, PDAM Tirta Cisadane, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Tangsel.

“Setiap titik rata-rata menerima distribusi sekitar 2.100 hingga 5.000 liter air bersih per hari. Air berasal dari PDAM Tirta Cisadane maupun Balai Besar,” tuturnya.

Hingga saat ini belum ada laporan kekeringan di wilayah lain. Namun BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan karena Kecamatan Serpong dinilai menjadi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan setelah Kecamatan Setu.

“Kami terus melakukan pemantauan. Saat ini belum ada laporan titik baru, tetapi wilayah yang kami antisipasi berikutnya adalah Kecamatan Serpong,” tutupnya. (*)

 

Pos terkait