Seren Taun Simbol Ketahanan Pangan, Gotong Royong Masyarakat Kasepuhan

Ratusan masyarakat kasepuhan Cisitu tumpah ruah mengikuti acara seren taun, Senin 13 Senin 2026.Foto : A Fadilah/BantenEkspres.co.id

CIBEBER,BANTENEKSPRES.CO.ID – Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menghadiri Seren Taun yang digelar di dua wilayah Kasepuhan, yakni Kasepuhan Situmulya di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, dan Kasepuhan Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Senin 13 Juli 2026.

Seren Taun merupakan tradisi tahunan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah serta doa keselamatan untuk musim tanam berikutnya. Kasepuhan Situ Mulya dan Cisitu memiliki ikatan historis Kasepuhan Banten Kidul yang sangat kuat.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Lebak menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para kaolotan serta seluruh warga kasepuhan yang tetap konsisten menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi.

“Budaya dan adat istiadat adalah identitas serta akar jati diri kita. Apa yang kita lakukan ini di Kasepuhan bukan sekadar seremonial, melainkan simbol ketahanan pangan, gotong royong, dan keselarasan hidup dengan alam, serta komitmen menjaga alam. “ ujar Wakil Bupati Lebak.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa tanggung jawab menjaga tradisi dan budaya ini berada di pundak generasi muda. Nilai-nilai luhur dari Seren Taun harus mampu ditransformasikan agar dipahami dan dicintai oleh generasi yang akan datang.

“Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana memastikan anak-cucu kita nanti tidak kehilangan obor sejarahnya. Jika budaya ini luntur, kita akan kehilangan arah. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga adat, dan generasi muda harus terus diperkuat agar adat Kasepuhan ini tetap hidup dan relevan di masa depan,” ujar Amir Hamzah, dalam keterangannya.

Ketua Adat Kasepuhan Cisitu generasi ke-8, Yoyo Yohenda mengatakan, prosesi adat Sawer Gunung merupakan tradisi warisan leluhur yang menjadi simbol penghormatan kepada Sang Hyang Sri atau Dewi Padi sekaligus ungkapan syukur agar tanaman tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Dalam falsafah Sunda, harapan tersebut tercermin dalam ungkapan “mulur akar, babur satangkai, hejo daun, ngeusi beas, aman ka rajaan.

Menurutnya, seluruh rangkaian Seren Taun telah memiliki ketentuan adat yang tetap dan diwariskan secara turun-temurun sejak berdirinya Kasepuhan Cisitu pada tahun 1685.

“Setiap prosesi memiliki aturan adat yang tidak berubah. Yang berbeda hanya waktu pelaksanaannya mengikuti kalender setiap tahun. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang kami peroleh,” ungkapnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan Seren Taun sebagai identitas masyarakat adat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Selain melestarikan budaya, masyarakat adat Kasepuhan Cisitu terus mendukung pelestarian lingkungan, penguatan ketahanan pangan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Dalam seren taun ini kami berharap Pemerintah Kabupaten Lebak, Pemerintah Provinsi Banten, dan Pemerintah Pusat dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, khususnya akses jalan menuju Kasepuhan Cisitu yang masih membutuhkan perhatian,” ucapnya.(*)

Repoerter : A Fadilah

Pos terkait