Pasien DBD di RSUD Tigaraksa Melonjak 30 Persen, Masyarakat Diimbau Waspada

Pasien DBD di RSUD Tigaraksa Melonjak 30 Persen, Masyarakat Diimbau Waspada
Direktur Utama RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri. Foto Dani/Bantenekspres.co.id

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tigaraksa mencatat lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga sekitar 30 persen dalam dua bulan terakhir. Peningkatan tersebut dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan banyak genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Direktur Utama RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri mengatakan, pada April 2026 rumah sakit menangani 45 pasien DBD. Angka itu meningkat menjadi 64 kasus pada Mei 2026. Sementara data pasien pada Juni masih dalam proses rekapitulasi.

Bacaan Lainnya

“Genangan air ini terkait dengan 3M Plus. Nomor satu, tidak ada lain, pemberantasan sarang nyamuknya itu yang kurang. Aktivitas pagi dan sore hari yang sering tidak kita sadari menjadi waktu utama penularan melalui gigitan nyamuk tersebut,” ujar dr. Faridzi, Minggu 28 Juni 2026.

Meski jumlah pasien meningkat, ia memastikan kapasitas pelayanan RSUD Tigaraksa masih memadai. Dengan total 117 tempat tidur, seluruh pasien DBD masih dapat ditangani sesuai standar pelayanan yang berlaku.

Menurutnya, rumah sakit terus meningkatkan kesiapsiagaan karena tren peningkatan kasus DBD diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar Oktober mendatang.

Berdasarkan data rekam medis, RSUD Tigaraksa juga mencatat satu kasus kematian akibat DBD pada Januari 2026. Saat tiba di rumah sakit, pasien tersebut sudah berada dalam kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS) atau syok dengue.

Dalam penanganan pasien DBD, RSUD Tigaraksa mengutamakan penanganan kegawatdaruratan, pemantauan kondisi pasien secara berkala, serta menyiapkan ruang Intensive Care Unit (ICU) bagi pasien yang mengalami kondisi kritis.

dr. Faridzi mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan DBD adalah perkembangan penyakit yang sangat cepat pada sebagian pasien. Kondisi tersebut terkadang membuat pasien mengalami perburukan sebelum seluruh hasil pemeriksaan laboratorium selesai.

“Ada kasus di mana gejala klinis mengarah kuat ke DBD, namun progres penyakitnya terlalu cepat sehingga pasien meninggal dunia sebelum hasil pemeriksaan laboratorium lengkap untuk menegakkan diagnosis secara ilmiah,” katanya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk disiplin menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, serta melakukan berbagai upaya pencegahan gigitan nyamuk guna menekan penyebaran DBD. (*)

Pos terkait