Sri Panggung Kritik Promosi Pasar Sentiong, Dinilai Tidak Etis dan Singgung Pekerja

Anggota DPRD kabupaten Tangerang, Sri Panggung Lestari

BALARAJA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Sri Panggung Lestari mengkritik narasi promosi Pasar Sentiong, Kecamatan Balaraja. Ia menilai narasi promosi yang mencantumkan kalimat “Cicilan Semurah Gaji Karyawan Kabupaten Tangerang” tidak etis dan berpotensi menyinggung para pekerja.

Sri Panggung mengatakan, strategi pemasaran sebuah pasar atau pusat perdagangan seharusnya tidak menggunakan kalimat yang menyentuh ranah pribadi masyarakat, terlebih berkaitan dengan penghasilan pekerja.

Bacaan Lainnya

“Silakan beriklan, silakan melakukan marketing, tetapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Gaji itu sifatnya pribadi. Saya sangat tidak setuju dengan kalimat yang menyebut semurah gaji karyawan. Itu tidak etis,” kata Sri Panggung, Kamis 25 Juni 2026.

Ia menjelaskan, upah minimum di Kabupaten Tangerang memang termasuk yang tertinggi di Indonesia, yakni sekitar Rp5,2 juta per bulan. Namun, kondisi ekonomi setiap pekerja berbeda sehingga penggunaan nominal gaji sebagai bahan promosi dinilai tidak tepat.

“Belum tentu semua pekerja merasa nyaman dengan narasi seperti itu. Banyak juga masyarakat yang penghasilannya masih di bawah UMR. Jadi jangan menjadikan gaji pekerja sebagai alat promosi,” ujarnya.

Politisi Partai Amanat Nasional itu menegaskan, promosi produk pasar semestinya lebih menonjolkan keunggulan fasilitas, lokasi, maupun kemudahan pembayaran tanpa harus membawa-bawa kondisi ekonomi kelompok tertentu.

Di sisi lain, ia menilai persoalan utama pasar sebenarnya bukan hanya soal harga kios atau besaran cicilan, melainkan bagaimana pasar mampu menarik pedagang dan pembeli untuk beraktivitas di dalam area yang telah disediakan.

Menurutnya, sejumlah program revitalisasi pasar yang dilakukan pemerintah bertujuan menata aktivitas perdagangan agar lebih tertib dan nyaman. Namun tantangan terbesar sering kali muncul ketika pedagang enggan menempati kios yang telah disiapkan di dalam pasar.

“Revitalisasi pasar itu tujuannya agar aktivitas perdagangan lebih tertata. Persoalannya sekarang bagaimana pedagang mau masuk dan berjualan di dalam pasar. Itu yang harus menjadi perhatian bersama,” ucapnya.

Sri Panggung berharap pengelola pasar lebih bijak dalam menyusun materi promosi dan mengedepankan pendekatan yang membangun kepercayaan masyarakat. Ia juga meminta seluruh pihak fokus pada upaya menghidupkan aktivitas perdagangan di pasar agar investasi yang telah dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi pedagang maupun konsumen.

“Jangan sampai promosi yang dibuat justru menimbulkan polemik. Yang lebih penting adalah bagaimana pasar ramai, pedagang nyaman berjualan, dan masyarakat mau datang berbelanja,” katanya. (*)

Pos terkait