TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Fraksi PDI Perjuangan, Deden Umardani, mempertanyakan sejauh mana predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) benar-benar dirasakan oleh anak-anak di Kabupaten Tangerang.
Ia mengatakan, berbagai persoalan yang masih terjadi, mulai dari tawuran pelajar, minimnya ruang bermain, hingga eksploitasi anak di jalanan, menunjukkan bahwa daerah ini masih jauh dari kategori ramah anak.
Pernyataan itu disampaikan Deden saat menanggapi maraknya kasus tawuran yang melibatkan pelajar SMP di Kabupaten Tangerang. Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara serius melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Kita ingin membentuk tim kecil untuk mencari pola pencegahan tawuran. Nanti ada kegiatan roadshow ke sekolah-sekolah bersama Satpol PP dan pihak terkait, tetapi metodenya harus benar-benar sesuai dengan kondisi anak-anak sekarang,” kata Deden, Kamis 11 Juni 2026.
Menurut Deden, persoalan tawuran tidak bisa dilepaskan dari konsep Kabupaten Layak Anak yang selama ini digaungkan pemerintah daerah. Ia menilai berbagai indikator ramah anak belum terlihat nyata di lapangan.
“Kalau melihat kondisi sekarang, saya belum melihat keramahannya terhadap anak. Tawuran masih terjadi, ruang bermain anak masih minim, rumah aman tidak berjalan maksimal, dan masih banyak ruang kelas yang rusak berat. Bagaimana mau disebut ramah anak kalau lingkungan pendidikannya saja belum aman dan nyaman?” ujarnya.
Deden menilai, pembangunan yang berpihak kepada anak harus dimulai dari perencanaan yang jelas dan terukur. Pemerintah daerah, kata dia, perlu menentukan arah kebijakan yang benar-benar fokus pada pemenuhan hak dan perlindungan anak.
“Tujuannya harus jelas. Anak-anak ini mau dibawa ke mana? Kalau konsep ramah anak hanya sebatas slogan tanpa program yang konkret, hasilnya tentu tidak akan terasa,” tegasnya.
Selain persoalan pendidikan dan fasilitas publik, Deden juga menyoroti masih banyaknya anak-anak yang terlihat mengemis di persimpangan jalan bersama orang tuanya. Fenomena tersebut dinilainya sebagai bentuk eksploitasi anak yang belum mendapatkan perhatian serius.
Ia mengaku masih sering melihat anak-anak digendong orang tuanya untuk meminta-minta di lampu merah maupun kawasan pusat keramaian. Bahkan, menurutnya, ada anak-anak yang sengaja dijadikan manusia silver untuk mencari uang di jalanan.
“Perlindungan anak itu bukan hanya soal korban kekerasan fisik atau seksual. Anak-anak yang dibawa mengemis, menjadi manusia silver, kehujanan dan kepanasan di jalan juga sedang dikorbankan. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” katanya.
Deden menegaskan pendekatan yang dilakukan bukan dengan menghukum anak maupun orang tuanya, melainkan melakukan pembinaan dan memberikan solusi ekonomi yang lebih layak.
“Bukan ditangkap lalu dihukum. Mereka harus dibina, orang tuanya harus dibantu agar memiliki pekerjaan yang lebih baik sehingga anak-anak tidak lagi dijadikan alat mencari nafkah di jalan,” ujarnya.
Di sisi lain, Deden juga menyoroti tantangan baru di era digital. Menurutnya, ruang ramah anak saat ini tidak hanya berbentuk fasilitas fisik, tetapi juga harus mencakup ruang digital yang aman bagi anak-anak.
Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren tawuran pelajar yang kini bahkan disiarkan secara langsung melalui media sosial. Karena itu, ia mendorong Dinas Pendidikan untuk lebih aktif mengawasi aktivitas digital para siswa.
“Saya sudah meminta agar sekolah memiliki data akun media sosial siswa, baik Instagram, TikTok maupun platform lainnya. Tujuannya bukan untuk mengontrol secara berlebihan, tetapi untuk memantau perilaku yang berpotensi mengarah pada kekerasan seksual maupun tawuran,” jelasnya.
Menurut Deden, pengawasan di ruang digital menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Ia berharap predikat Kabupaten Layak Anak tidak hanya menjadi penghargaan administratif, tetapi benar-benar tercermin dalam kehidupan sehari-hari anak-anak di Kabupaten Tangerang.
“Kalau APBD kita sudah besar, maka manfaatnya juga harus benar-benar dirasakan masyarakat, terutama anak-anak. Jangan sampai masih ada anak yang harus tumbuh dan mencari nafkah di tengah asap kendaraan di jalan raya. Di situlah ukuran sesungguhnya apakah kita benar-benar ramah terhadap anak atau belum,” ucapnya. (*)
Reporter: Dani mukarom











