RSUD Tigaraksa Pastikan Stok Obat Aman hingga Akhir 2026

Direktur RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah kenaikan harga sejumlah obat, RSUD Tigaraksa memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal. Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Tangerang itu mengklaim stok obat untuk kebutuhan hingga akhir tahun 2026 masih dalam kondisi aman.

Direktur RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri, mengatakan pihaknya telah menyelesaikan sebagian besar proses pengadaan obat untuk tahun berjalan sehingga dampak kenaikan harga belum dirasakan secara langsung.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah untuk RSUD Tigaraksa sampai saat ini pembelanjaan tahun 2026 sudah hampir selesai. Jadi stok sampai akhir tahun insyaallah masih aman. Yang harus kita antisipasi justru kebutuhan tahun 2027,” ujar Faridzi, Kamis 11 Juni 2026.

Farid mengatakan, potensi kenaikan harga obat akan menjadi perhatian serius dalam penyusunan anggaran tahun depan. RSUD Tigaraksa akan melakukan perhitungan ulang kebutuhan belanja kesehatan dengan menyesuaikan perkembangan harga terbaru di pasaran.

Ia menjelaskan, informasi yang diterima dari distributor menunjukkan adanya rencana kenaikan harga sejumlah produk kesehatan. Namun hingga saat ini belum ada rincian resmi terkait jenis obat yang mengalami kenaikan.

“Biasanya yang mengalami kenaikan adalah obat-obatan yang bahan bakunya masih bergantung pada impor. Itu yang paling sensitif terhadap perubahan harga,” katanya.

Untuk mengantisipasi dampak kenaikan biaya pengadaan, RSUD Tigaraksa telah menyiapkan sejumlah langkah efisiensi tanpa mengurangi kualitas layanan maupun keselamatan pasien.

Salah satunya dengan memprioritaskan pengadaan obat-obatan esensial dan kebutuhan medis yang bersifat penyelamatan nyawa (life saving). Sementara belanja yang dianggap tidak mendesak atau bersifat kosmetik akan dikurangi.

“Kita akan fokus pada skala prioritas. Belanja yang tidak esensial akan dikurangi agar kebutuhan obat-obatan penting tetap terpenuhi,” jelasnya.

Selain itu, rumah sakit juga akan memperketat penggunaan obat-obatan berbiaya tinggi agar diberikan secara tepat sesuai indikasi medis. Audit stok obat akan dilakukan secara berkala, termasuk kemungkinan negosiasi ulang kontrak dengan penyedia untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif.

RSUD Tigaraksa juga, kata dia, berupaya meningkatkan penggunaan produk dalam negeri yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor.

Terkait wacana efisiensi dengan mengurangi jumlah obat yang diberikan kepada pasien, Faridzi menegaskan hingga saat ini belum ada kebijakan tersebut di lingkungan RSUD Tigaraksa.

Menurutnya, pemberian obat tetap mengacu pada kebutuhan medis dan keputusan dokter yang menangani pasien.

“Yang utama adalah keselamatan dan kesembuhan pasien. Kalau secara medis harus diberikan 10 hari, ya tetap 10 hari. Itu berdasarkan kondisi pasien, bukan karena alasan efisiensi,” ucapnya. (*)

Reporter: Dani mukarom

Pos terkait