LEGOK,BANTENRKSPRES.CO.ID – Puskesmas Bojong Kamal, Kecamatan Legok, terus memperkuat penanganan kasus gizi pada balita dengan melakukan rujukan ke dokter spesialis anak. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya serius meningkatkan kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak dini.
Dalam pelaksanaannya, petugas kesehatan melakukan sejumlah tahapan saat pendampingan. Mulai dari pengukuran berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga pemberian edukasi menggunakan leaflet yang disampaikan langsung oleh dokter umum di Puskesmas Bojong Kamal.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal, balita yang terindikasi mengalami masalah gizi kemudian dirujuk ke Puskesmas Legok untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Di lokasi tersebut, balita menjalani analisa mendalam serta konsultasi bersama dokter spesialis anak guna memastikan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing.
Kepala Puskesmas Bojong Kamal drg. Made Kusuma Dewi menegaskan, bahwa program pendampingan ini tidak hanya berfokus pada penanganan medis, tetapi juga menyasar perubahan perilaku keluarga sebagai faktor utama penyebab masalah gizi.
“Penanganan masalah gizi pada balita tidak bisa hanya dilakukan dari sisi medis saja, tetapi harus menyentuh akar permasalahannya, yaitu pola asuh dan perilaku keluarga,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Selasa 28 April 2026.
Ia menjelaskan, edukasi menjadi kunci utama dalam mencegah dan menangani kasus gizi pada anak. Oleh karena itu, pihaknya secara rutin memberikan pemahaman kepada orang tua terkait pentingnya asupan gizi seimbang.
“Kami memberikan edukasi secara langsung kepada orang tua melalui leaflet maupun konsultasi. Harapannya, orang tua dapat memahami kebutuhan gizi anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa rujukan ke dokter spesialis anak dilakukan agar balita mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif.
“Dengan adanya rujukan ke dokter spesialis anak, kami ingin memastikan bahwa setiap balita dengan masalah gizi mendapatkan diagnosis yang tepat serta penanganan yang optimal,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Tanpa dukungan dan perubahan perilaku dari orang tua, penanganan medis tidak akan berjalan maksimal.
“Peran keluarga sangat menentukan. Kami berharap orang tua dapat lebih peduli dan aktif dalam memantau tumbuh kembang anaknya, termasuk memperhatikan asupan makanan yang diberikan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan, bahwa program ini merupakan bentuk komitmen puskesmas dalam menekan angka masalah gizi di wilayah Kecamatan Legok.
“Kami berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan secara berkelanjutan, agar kasus gizi pada balita dapat ditekan dan kualitas kesehatan anak-anak di wilayah kami semakin meningkat,” tutupnya. (*)









