TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Setelah sukses meraih juara umum tingkat Provinsi Banten pada 2025, tahun ini Kabupaten Tangerang bersiap melangkah lebih jauh dengan membawa inovasi unggulan bernama Biokasta ke tingkat nasional.
Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Tangerang, Wahab, mengungkapkan capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi dari desa memiliki daya saing hingga level nasional.
“Alhamdulillah tahun 2025 kita berhasil menjadi juara umum tingkat provinsi. Pemenang tahun lalu kini mewakili Kabupaten Tangerang untuk mengikuti Gelar TTG tingkat nasional tahun 2026,” ujar Wahab, Senin 27 April 2026.
Inovasi yang diandalkan yakni Biokasta, teknologi tepat guna berupa septic tank berukuran kecil yang dinilai efisien, efektif, dan hemat biaya. Teknologi ini lahir dari tangan inovator asal Kecamatan Sindang Jaya, tepatnya wilayah Telaga Bestari.
Menurut Wahab, Biokasta tidak hanya menjadi unggulan dalam perlombaan, tetapi juga mulai dikenal luas dan telah digunakan di masyarakat, bahkan menarik minat dari daerah lain.
“Biokasta ini bukan sekadar inovasi lomba, tapi sudah ada penerapan dan pemesanan dari kabupaten dan kota lain. Ini menunjukkan inovasi desa punya manfaat nyata,” katanya.
Menghadapi kompetisi nasional, DPMPD mengaku optimistis meski menyadari penilaian akhir berada di tangan dewan juri. Persiapan terus dimatangkan sembari menunggu jadwal resmi dari pemerintah pusat dan provinsi terkait tahapan lomba nasional tersebut.
Selain Biokasta, Kabupaten Tangerang juga menyiapkan inovasi lain untuk ajang TTG tingkat provinsi tahun ini, salah satunya genset rakitan lokal yang dinilai memiliki unsur kearifan lokal dan nilai kebaruan.
Wahab menjelaskan, berbagai inovasi yang muncul dari ajang TTG berpotensi dikembangkan lebih luas, termasuk menuju produksi massal. Namun, proses itu membutuhkan tahapan panjang, mulai dari riset lanjutan, legalitas, hak cipta, hingga dukungan investor dan kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Kalau mau diproduksi massal, harus melalui penyempurnaan bersama BRIN agar memenuhi standar kelayakan. Kami di dinas mendorong itu, termasuk membantu inventor menuju perlindungan hak cipta,” jelasnya.
Meski belum ada inovasi TTG asal Kabupaten Tangerang yang diproduksi secara industri besar, Wahab menilai implementasi di masyarakat sudah menjadi capaian penting.
“Bagi DPMPD, ajang TTG bukan sekadar lomba, tetapi ruang menjaring, membina, dan mengangkat potensi inovator desa agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat, ” ucapnya. (*)
Reporter: Dani mukarom









