MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Wilayah pesisir Tangerang Utara dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi hijau baru di Indonesia.
Melalui pemanfaatan komoditas mangrove, kawasan ini tidak hanya mampu menghasilkan produk pangan inovatif, tetapi juga berpeluang meraup keuntungan dari perdagangan karbon (carbon trade).
Seorang Pengiat Mangrove Ahmad Alwi Satibi Sidiq atau yang akrab disapa Abil mengungkapkan, turunan budidaya mangrove di Tangerang telah menghasilkan berbagai produk unik.
Abil menyebutkan, pihaknya telah mengembangkan berbagai produk olahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu produk unggulannya adalah Mi Mangrove.
“Kita memiliki satu-satunya Mi Mangrove dan riset mangrove yang belum ada di mana pun. Selain itu, ada sirup, dendeng, selai, keripik, boba hingga briket dari limbah mangrove,” ujar Abil.
Ia menambahkan, mangrove sebenarnya bisa menjadi solusi swasembada pangan jika dikelola dengan kebijakan yang tepat dari pemerintah pusat maupun daerah.
Bahkan ke depannya, tim kreatif tengah membidik pengembangan obat-obatan tradisional dari kandungan nutrisi mangrove.
Salah satu produk yang menonjol adalah briket yang memanfaatkan propagul (buah mangrove jenis Rhizophora). Berbeda dengan arang kayu konvensional yang memicu deforestasi, briket ini menggunakan limbah mangrove.
“Tangerang bisa jadi solusi bagi Kalimantan agar berpindah dari penggunaan kayu ke limbah mangrove untuk bahan arang. Di sana arangnya dari pohon, sedangkan kita dari limbah,” jelasnya.
Meski memiliki potensi ekspor yang besar, Abil mengakui masih ada kendala dalam menembus pasar internasional. Tantangan utama yang dihadapi para pemuda kreatif di Tangerang Utara adalah pemenuhan standar kualitas (grade) dan kapasitas produksi.
Oleh karena itu, ia berharap adanya pendampingan intensif dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Tangerang untuk membantu standarisasi produk agar layak ekspor.
Selain sektor produk fisik, Abil menyoroti kekayaan lahan ribuan hektar di Tangerang Utara yang berpotensi besar dalam carbon trade (perdagangan karbon).
“Andai carbon trade itu laku di Indonesia, maka wilayah Utara sangat kaya karena kita memiliki lahan ribuan hektar. Jika itu terjadi, kesejahteraan masyarakat pesisir akan meningkat pesat,” tambahnya.
Pengembangan potensi ini sejalan dengan visi ekonomi hijau yang diusung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Wilayah Utara Kabupaten Tangerang dianggap sebagai lokus strategis untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor lingkungan.
Abil berharap SKPD terkait benar-benar fokus membantu Bupati dalam mengembangkan potensi ini. Langkah ini diyakini mampu menekan angka kemiskinan melalui pemberdayaan pemuda ekonomi kreatif yang mandiri di wilayah pesisir. (*)
Reporter: Zakky Adnan











