TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Harga plastik di Kabupaten Tangerang mengalami kenaikan signifikan akibat perang antara Israel – Amerika Serikat dan Iran, Senin 6 April 2026.
Di Pasar Gudang Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, para pedagang plastik mengeluhkan lonjakan harga yang drastis dalam beberapa pekan terakhir, hal ini berdampak langsung pada omzet dan daya beli masyarakat.
Eko, salah satu pedagang plastik mengaku kenaikan terjadi secara bertahap sebelum akhirnya melonjak tajam. Awalnya harga hanya naik sekitar Rp500 per bungkus, namun dalam waktu satu minggu harga melonjak dari Rp9.000 menjadi Rp14.000.
“Naiknya cepat sekali. Modal saya sudah Rp14.000, tapi saya cuma berani jual Rp15.000. Untungnya jadi tipis,” kata Eko saat diwawancarai Banten Ekspres.
Menurutnya, kenaikan paling terasa terjadi pada plastik bening original, sementara plastik hitam dari bahan daur ulang tidak mengalami kenaikan sebesar itu. Kondisi ini membuat para pembeli, yang sebagian besar pedagang makanan, mengeluhkan kenaikan biaya kemasan.
Akibatnya, omzet Eko turun signifikan. Sebelum kenaikan, ia bisa meraup Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per hari. Kini, mencapai Rp1 juta saja sudah sulit.

Eko menjelaskan, akibat kenaikan harga tersebut ia mengubah strategi dengan mengurangi stok. Jika sebelumnya ia berani menyimpan barang hingga satu bulan, kini ia hanya membeli untuk kebutuhan satu hingga dua hari karena khawatir harga turun saat stok masih banyak.
“Kami takut kalau belanja banyak, tiba-tiba harga turun. Jadi sekarang ambil sedikit-sedikit saja,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Afdal, pedagang plastik lainnya di Pasar Gudang Tigaraksa. Ia menyebut kenaikan harga bahkan mencapai lebih dari 100 persen. Harga plastik yang sebelumnya Rp7.000 kini melonjak menjadi Rp13.000 per unit.
“Kenaikannya hampir dua kali lipat. Semua jenis plastik naik, dari plastik es sampai kantong putih dan hitam,” kata Afdal.
Selain plastik, harga wadah styrofoam juga ikut terdongkrak. Untuk ukuran nasi kini mencapai Rp65.000, sementara ukuran bubur sekitar Rp40.000. Kondisi tersebut, kata Afdal, membuat banyak pelanggan protes.
Afdal menyebut omzetnya ikut terdampak. Jika sebelumnya ia bisa meraih Rp2 juta per hari, kini turun menjadi sekitar Rp1 juta.
“Pembeli masih ada, tapi mereka mengurangi jumlah belanja. Semua mengeluh karena biaya usaha mereka ikut naik,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi dari sales, kenaikan harga dipicu gangguan pasokan bahan baku dari Iran, yang merupakan salah satu produsen minyak dunia. Ketegangan konflik internasional membuat distribusi dan harga bahan baku plastik ikut terdampak.
Ia berharap kondisi geopolitik segera mereda agar harga plastik kembali stabil. “Harapannya harga turun lagi seperti biasa, supaya pedagang kecil tidak terlalu terbebani,” ujar Afdal. (*)











